Maaf untuk Team Renata dan kalian Pembaca

Sorry banget buat team renata dan pembaca blog ini..

Di luar dugaan, ternyata selesai kegiatan aku kembali tumbang alias jatuh sakit.

Dalam 2 hari ini, kesehatan mulai membaik tp kata dokter msh butuh waktu istrht yg ckup untk bner2 pulih, kira-kira 2 sampai 3 hari lg..

Jgn khawatir, aku msh ingat kok janji aku untk ngepost smua klanjutan keluarga baskara ke kalian, begitu sdh membaik kesehatannya dan hilang total pusing2 dn jg demamnya, bakal aku post segera..

Maaf banget yah, lagi2 buat kalian nunggu..

Dan, aku mohon banget do’a dan dukungannya biar segera pulih..

Sekali lagi maaf ya team Renata dan pembaca setia yg udh nunggu kelanjutan keluarga Baskara versi nana.nfw09

Iklan

Kabar Bahagia

x720-DR8 Hamilnya Renata

Jalanan terasa lenggang, Mobil Satria melaju dengan kencang. Dalam benaknya hanya terfikir bagaimana keadaan Renata sekarang. Hatinya hancur dan juga sakit, bahkan ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada sang istri. Bagi Satria, Renata adalah kebahagiaannya bersama anak-anak.

Selama perjalanan menuju rumah, tak henti-hentinya Satria mengucap do’a pada sang Pemilik Kehidupan untuk tidak terjadi apa-apa pada Renata.

“ya Allah, semoga tidak terjadi sesuatu pada Renata.” Ucapnya lirih.

Meski mobilnya melaju dengan kencang dan jarak tempuh tak begitu panjang, tetap saja membuat Satria merasa waktu begitu lama untuk segera tiba diirumah karna kekhawatiran.

Tit.. tit.. tit..

Terdengar bunyi klakson mobil Satria yang mulai terparkir dihalaman rumah. Dengan tergesa-gesa, Satria turun dari mobilnya dan segera menghampiri Renata yang bik isti tidurkan disofa.

“ren… “kata menghampiri Renata dan Khawatir. “ya Allah Ren, kamu kenapa ?” tambahnya.

“bik, sejak kapan Renata pingsan ?” tanya Satria pada bik isti.

“belum lama pak, saya sudah coba bangunkan dengan ngasih minyak angin tapi ibu nggak bangun-bangun juga.” Jelas bik isti.

“bik isti sudah ngasih tau bapak dan ibu Renata.” Tanya Satria lagi.

“belum pak, saya nggak kepikiran karna khawatir sama ibu.” Jawab bik isti.

“ya sudah bik, saya akan bawa Renata ke rumah sakit. Bik isti tolong bukakan pintu mobilnya ya.” Minta Satria sambil membopong tubuh Renata.

“baik pak.” Jawab bik isti singkat.

Setelah meletakkan Renata duduk dalam mobil dan memakaikannya sabuk pengaman, Satria menatap bik isti sejanak dan berkata.

“bik, tolong jangan kasih tau bapak dan ibu Renata dulu, saya takut mereka khawatir. Dan bik isti tolong temani anak-anak dulu ya nanti jika saya belum pulang.” Minta Satria.

“baik pak.” Jawab bik isti pada Satria.

Saat ingin masuk ke dalam mobil Satria kembali teringat.

“oya bik, jangan juga beritahu anak-anak. Saya pergi dulu bik.” Pamit Satria.

“iya pak.”

Dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sesekali Satria memandangi wajah istrinya dengan panik. Bayang-bayang kepergian Rahma selalu hadir didepan matanya.

“Ren.. bertahan ya.” Kata Satria dengan sangat khawatir.

Setibanya sampai dirumah sakit. Satria segera menuju meja recepsionis utuk mendapatkan bantuan dari suster.

Setelah menunggu beberapa saat, Renata segera ditangani dokter di ruang ICU dan Satria diminta untuk menunggu diluar.

Masih dengan kekhawatirannya, Satria tak bisa menunggu dengan tenang. Ketika pintu ICU kembali terbuka dengan datangnya dokter, ia segera menghampiri sang dokter dan menanyakan bagaimana keadaan istrinya.

“Dok, Bagaimana keadaan istri saya ?” Ujar Satria yang terdengan sangat khawatir.

Sebelum menjawab dengan kabar bahagia, dokter memainkan perasaan Satria dengan ekspresi wajahnya yang putus asa.

“ibu Renata… “ kata dokter dengan lemas.

“istri saya kenapa dokter ?” tanya Satria semakin panik.

Dokter kembali diam untuk beberapa saat dan memperhatikan wajah Satria lekat-lekat.

“dokter..” kata Satria mulai putus asa.

“selamat pak, ibu Renata sedang mengandung.” Ucap dokter akhirnya turut berbahagia.

“apa dok ?” ucap Satria tak percaya.

“iya pak.” Kata dokter lagi dengan diringi senyumnya. Ganteng ! (kalau ngomongin soal dokter jadi keingat Alm. dr. Ryan Thamrin, jadi sedih. But, ini cara Allah menyayanginya dan semoga dokter Ryan Allah berikan tempat terbaik disisiNya, aamiin. *eh, eh, kok jadi curhat. J )

“maksud dokter, Renata hamil ?” tanya Satria pada dokter lagi.

“iya pak, selamat ya atas kehamilan ibu Renata.” Jawab dokter seraya memegangi lengan Satria yang terlihat bahagia.

“boleh saya temui istri saya dok ?” minta Satria.

“O, tentu saja pak, silahkan.” Kata dokter, “kalau begitu saya permisi.” Pamit dokter.

“terimakasih ya dok.” Kata Satria sebelum dokter berlalu pergi.

Dengan wajah berseri-seri dan kebahagiaan yang tak terkira dalam relung hatinya, Satria menhampiri Renata yang masih terbaring diranjang dengan memeganggi perutnya.

“Assalamu’alaikum Ren…” salam Satria saat melihat Renata.

“wa’alaikumsalam mas Satria.” Jawab Renata dengan mata berkaca-kaca.

“Alhamdulillah ya Ren.” Kata Satria sambil memegangi tangan Istrinnya dengan air mata bahagia.

Sweet moment. Renata dan Satria terlihat sangat bahagia atas kabar kehamilan tersebut. Tak henti-hentinya mereka mengucap syukur atas nikmat yang Allah hadirkan dalam rumah tangga mereka.

“sekarang, kamu nggak boleh terlalu capek ya.” Minta Satria

“iya mas.” Jawab Renata dengan senang.

“assalamu’alaikum sayang, “salam satria pada bakal janin dalam kandungan Renata sambil ikut memegang perut istrinya.

“jangan nakal ya nak disana, bantuin ayah juga untuk jagain bunda sekarang.” Ujar Satria sambil melihat Renata yang tertawa bahagia melihat tingkahnya.

Ketika dokter telah memperbolehkan Renata untuk pulang dan memeberikan beberpa resep vitamin untuk kehamilannya, Satria segera menebus resep tersebut.

Terlihat jelas kebahagiaan Renata dan Satria, bagi mereka ini adalah kabar bahagia yang harus segera diketaui keluarga, terutama orang tua Renata sebab ini adalah cucu pertama mereka dari putrinya Renata Puteri Artadi.

Selama perjalanan tak henti-hentinya mereka saling memandang sekilas dengan senyum yang mengembang diwajah mereka, sambil saling menggenggam tangan.

Tit.. tit.. tit..

Terdengar bunyi klakson mobil Satria yang dipakirkan dihalaman rumah. Saat itu hari telah sore, anak-anak sudah menunggu mereka dirumah bersama dengan bik Isti.

“ayah.. bunda..” kata Raffa yang menghampiri orang tuanya turun dari mobil.

“ayah dan bunda perginya kok nggak ajak-ajak.” Kata Yasmin kecewa.

“maaf ya kak, dek..” kata Renata.

“oya yah, weekend ini kita jadikan campingnya?”tanya Yasmin pada Satria.

“jadi dong kak, dek.” Jawab Renata mantap. “iya kan yah?” tanya Satria pada Renata yang hanya ditatap Satria dengan terkejut.

“kok ayah diam aja.?” Tanya Raffa pada Satria yang tidak memberikan jawaban dari pertanyaan Renata.

“iya jadi kok.” Jawab Satria setengah ragu.

“horeee…. “ jawab Raffa dan Yasmin girang.

“ayoo kita masuk.” Ajak Renata pada anak-anaknya seraya merangkul keduanya.

Hari menjadi gelap, sebelum waktu makan malam bersama tiba Satria menghampiri Renata dikamarnya yang baru saja selesai sholat.

“Mas.. “ sapa Renata, “ada apa, kok mukanya murung gitu. Ada yang lagi dipikirin ya?” tanya Renata dengan lembut seraya mendekat kesisi Satria.

“bunda kok setuju untuk camping, kan bunda lagi hamil, ayah nggak mau bunda capek.” Kata Satria pada istrinya.

“nggak kok yah, bunda nggak akan capek. Lagian ayah kan sudah janji waktu itu dengan anak-anak untuk camping weekend ini.” Jelas Renata.

“iya tapi kan bun..” kata Satria

“ayah…” ujar Renata dengan sayang seraya memandang Satria dengan tatapan cinta.

“biarkan kebahagiaan bunda lengkap ya, bunda tidak ingin Yasmin kecewa dan ngambek seperti waktu itu karna ayah tidak menepati janji.” Minta Renata pada suaminya.

“bukannya kita yang selalu mengajarkan pada anak-anak untuk selalu menepati janji ya?” ledek Renata dengan tatapan menggoda “lagian kan ada ayah, Raffa dan juga Yasmin yang jagain bunda, jadi bunda tidak akan capek.” Tambah Renata meyakinkan suaminya.

“makasih ya sayang.” Jawab Satria seraya memeluk istrinya dengan penuh kebahagiaan dan juga cinta.

Tiba-tiba yasmin dan Raffa masuk ke dalam kamar orang tuanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu sehingga membuat Renata dan Satria yang sedang berpelukan mesra menjadi terkejut.

“ayah, bunda..” panggil Yasmin seraya membuka pintu.

“ayah dan bunda kok pelukan terus siih.” Goda Raffa pada orang tuanya.

“iya yah dek, ayoo kita ajak bunda makan biar ayah nggak bisa dekat-dekat bunda lagi.” Canda Yasmin pada Satria.

“ayooo bunda.” Ajak Raffa menarik Renata untuk ikut bersama.

“kakak, adek.. masa ayah ditinggal sendiri.” Kata Satria sambil menyusul anak dan istrinya menuju meja makan.

Seusai makan malam bersama, Yasmin dan Raffa sedang asik menyiapkan perlengkapan campingnya. Sedangkan Renata dan sang suami pergi kerumah orang tuanya untuk memberikan kabar bahagia sekaligus berpamitan untuk camping dipuncak.

“ya Allah Ren, alhamdulillah. Ibu seneng banget dengernya.” Kata nenek Ratna seraya memeluk anaknya.

“kita akan punya cucu lagi bu.” Ujar kakek Jodi pada Istrinya yang tak kalah gembira.

“iya pak. Selamat ya Ren, nak Satria.” Kata nenek Ratna.

“iya pak, bu, terimakasih.” Kata Satria.

“nak Satria, apa nggak sebaiknya rencana campingnya ditiadakan saja ? Renata kan sedang hamil.” Tanya nenek Ratna pada menantunya.

“saya juga maunya gitu bu, tapi Renata tetap mau pergi camping dengan anak-anak.” Jelas Satria.

“kamu ini Ren. La ya jangan memaksakan diri.” Kata kakek Jodi.

“Ren, nggak papa kok bapak, ibu. Do’ain saja Ren dan bayi ini sehat terus ya.” Minta Renata.

“ya sudah kalau kamu maunya begitu, tapi inget jaga kesehatan dan jangan terlalu capek loeh Ren. Kamu nggak sendiri sekarang.” Kata nenek Ratna mengingatkan.

“iya ibu..”

*****

Hari itu begitu cerah. Gumpalan awan-awan putih membentuk mega yang cantik. Lembutnya senandung alam bak irama yang mengiringi perjalanan mereka menuju puncak tempat camping.

“kak, kak.. lihat deh itu. Bagus banget ya.” Ujar Raffa pada Yasmin seraya menunjukkan pemandangan yang indah nan esotis.

“iya, yuuk dek sekalian kita buat vlog. Udah lama kan kita nggak buat vlog.” Ajak Yasmin pada Raffa.

“iya kak. Ayoo. Kakak yang rekam yah, nanti Raffa yang ngomong.” Minta Raffa.

“haaii.. ketemu lagi sama aku, Hari ini aku dan kakak, ayah sama bunda lagi mau camping nih dipuncak. Itu lihat, pemandangannya bagus banget kan.” Ujar Raffa seraya memperkenalkan keluarganya.

Seusainya membuat vlog selama perjalanan dan tibalah mereka pada tempat untuk camping yang mereka rasa cocok dan nyaman untuk bermalam, mereka segera mendirikan tenda secara bersama-sama.

“adek..  bantuin kakak dong.” Minta Yasmin pada Raffa untuk mendirikan tenda.

Pada saat yang bersamaan, satria melihat Renata ingin menurunkan lipatan kursi camping dari dalam mobil. Seketika itu Satria bergegas membantu sang istri.

“bunda.. udah biar aku aja.” Ujar Satria sambil menurunkan kursinya.

“nggak papa yah, bunda bisa kok.” Kata Renata masih tetap ingin membantu.

“udah aku aja.” Minta Satria.

“makasih ya yah.” Jawab Renata dengan tersenyum.

Malam pun tiba. Satria sedang menyiapkan bakaran untuk makan malam dan Renata sedang mempersiapkan bahan makanannya. Sedangkan Yasmin dan Raffa sedang berada di dalam tenda. Tiba-tiba terdengar nada dering handphone Yasmin dan tak lain tak bukan adalah kakek Jodi yang memanggil menggunakan layanan video call.

“Assalamu’alaikum kakek. “ sapa Yasmin pada kakeknya

“wa’alaikumsalam.” Jawab kakek Jodi diseberang.

“hai Raffa” tambah nenek Ratna dari seberang

“sekarang, kita lagi persiapan bakar-bakaran. Ayah lagi siapin baranya” cerita Yasmin sambil berjalan kearah Satria.

“assalamu’alaikum bapak.” Sapa Satria sambil menyiapkan bakarannya.

“kalau, bunda… lagi siapin bahan-bahannya.” Cerita yasmin lagi seraya memperlihatkan ke arah Renata.

“haloo bapak.” Ujar Renata.

“Ren… Ren,” ujar kakek dan nenek Jodi secara bersamaan. Dan Satria ikut bergabung bersama anak dan istrinya.

“ayo dong, ayah diajak dong.” Kata Renata pada Raffa.

“ohya, ayah.” Teriak Raffa

“hmm, ayah nggak diajak.” Ujar Satria seraya menghampiri mereka dan merangkulkan tangannya kepada sang istri.

“Raffa, tau nggak. kakek baru ditinggal satu hari saja kemarin, udah kangen sama kalian.” Cerita nenek Ratna dari seberang yang dijawab dengan tawa oleh kakek Jodi.

“coba kakek dan nenek ikut.” Kata Raffa.

“waaahh, kakek ini udah nggak kuat camping jauh-jauh. eh kalau mau camping kita camping dihalaman rumah aja ya, mau nggak ? sama saja tuh .” ajak kakek Jodi.

“mau, mau..” jawab Raffa dn Yasmin.

“mau kek” jawab Yasmin.

“boleh ya” jawab Satria.

“semangat banget” kata Renata.

“oke” kata kakek Jodi.

“dada kakek…” kata Yasmin dan Raffa.

“assalamu’alaikum” pamit semua sambil menutup telfonnya.

“bunda, ada yang perlu aku bantuin nggak.?” Tanya Yasmin pada Renata.

“aku juga mau bantu.” Kata Raffa.

“hmm, ini udah bunda siapin semua kok.” Jawab Renata sambil melihat ke arah Satria.

Seusainya video call. Satria dan Renata menikmati waktu berdua dengan bahagia seraya saling mengaitkan tangan satu sama lain.

“aku bahagia banget bun.”

“aku juga yah.” Jawab Renata.

Dan kemudian Raffa dan juga Yasmin menghampiri orang tuanya dengan membawa muk yang mereka buat untuk mereka.

“ayah, bunda.” .” Kata Yasmin menghampiri orang tuanya.

“ayah, bunda lihat deh ini muk yang tadi pagi kita bikin udah kering loeh.”

“waaaaw..” jawab Renata.

“ini buat ayah.” Kata Raffa.

“kan dulu ayah punya dan bunda pernah pecah.” Jelas Yasmin mengingatkan.

“iya” jawab Satria.

“jadi kita bikinan ulang deh, jadinya lengkap. Kayak keluarga kita, ada kakak, ada ayah, ada adek dan juga ada bunda.” Jelas Yasmin dengan atusias

Karena sayang dan terharunya Renata memeluk anak-anaknya dengan sayang.

“oo, mau dipeluk-peluk sama bunda. Ayah boleh ikutan peluk nggak?” tanya Satria pada Raffa dan Renata yang masih berpelukan.

“kakak juga.” Kata Yasmin Seraya memeluk semua

“ayah, bunda, kita nggak selfi ?” tanya Yasmin.

“selfi dong.” Jawab Renata seraya saling berdekatan dengan yang lain ditempat duduknya.

“pake Hp kakak aja ya. 1, 2 ,3 criisss.” Kata Yasmin dan yang lain.

Malam itu begitu indah, mereka semua menikmati waktu makan malam bersama dialam terbuka. Suasana yang berbeda dari biasanya. Satria dan Renata sangat menikmati saat itu, dibawah terangnya sinar rembulan, dengan perasaan cintanya Satria mencium kening sang istri.

Waktu berlalu dengan cepat. Kini mereka bersiap untuk pulang ketika matahari mulai meninggi.

“aman semua ?” tanya Renata pada Satria yang memasukkan barang-barang kedalam bagasi mobil.

“sudah aman, selama kamu ada disamping aku.” Ujar Satria penuh cinta pada Renata.

Mendengar gombalan suaminya itu, Renata merasa senang dan tersenyum manis seraya menerima pelukan dari sang suami tercinta. Namun, lagi-lagi Yasmin dan juga Raffa menggangu.

“bunda… ayah” ujar Yasmin.

“ayo dong..” kata Raffa

“ayooo.. kan kita mau ke Ren’s kitche dulu.” Tambahnya.

“iya,iya.. Cuma sebentar kok. Ini juga udah siap kok “ jawab satria.

“tapi tanggannya belum lepas.” Kata Renata pada Satria

“tapi, nggak bisa lepas.” Tambah Satria yang disambut tawa bahagia semuanya.

“bunda, duduk bareng aku aja ya.” Minta Yasmin.

“Bunda duduk bareng aku.” Minta Raffa yang juga tak mau kalah.

“bareng kakak aja.” Kata Yasmin.

Renata hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah laku anak-anaknya dan memandang sng suami.

“terus ayah sama siapa ?” tanya Renata pada anak-anak.

“iya ayah sama siapa dong? Tanya Satria pada anak-anaknya.

“bareng sama kita aja ya..” ajak Yasmin pada Renata seraya menariknya.

“haah, ayah sendirian gitu duduk didepannya.” Kata Satria.

“iya..” jawab Raffa dan Yasmin kompak.

*****

Tak kalah bahagianya dengan Satria dan juga Renata. Di Ren’s kitchen, Rado dan Febby sedang memadu kasih dengan cara mereka tersendiri.

“mas, ini kontrak-kontraknya udah selesai semua, beneran?” Tanya Febby pada mas Radonya.

“udah beres kok semua.nya” Jawab Rado dengan senyuman pada Febby.

“makasih ya sayang, akhirnya aku bisa punya cafe beneran sebelum nikah.” Ujar Febby.

“justru itu rejeki kamu, alhamdulillah. lagian malah aku seneng bisa ada disisi kamu,  mewujudkan mimpi-mimpi kamu.” Jawab Rado dengan cintanya.

“makasih ya sayang.” Kata Febby dengan mesra.

“sama-sama sayang.” Jawab Rado dengan penuh tatapan cinta.

Tiba-tiba mak Saripah datang mengagetkan Rado dan Febby yang memadu cinta dengan saling pandang.

“eheeeem..” suara mak saripah mengaggetkan.

Rado dan Febby kaget, sehingga salah tingkah.

“astagfirullahhal’adzim.” Ujar Rdao kaget.

“baru juga mak tinggal buang sampah bentar udah mesra-mesraan. Ti ati, kan nggak enak nanti kalau ketahuan pak lurah” Kata Mak Saripah menggoda.

“aduh emak kirain ada apaan disitu.” Ujar Febby

“jadi bikin geregetan.” Kata Rdao sambil mengelap keringatnya

Hari semakin siang, pada saat itu Ren’s kitchen kedatangan Monik dan Ogel untuk menikmati makan bersama.

Dengan alasan kehamilannya, Monik meminta sang suami untuk menghiburnya nge-dance ala-alam Michel Jacson yang juga disaksikan oleh Rado dan Febby.

Tak lama setelah itu, keluarga baskara turut ikut bergabung bersama dengan mereka.

“assalamu’alaikum.” Sapa Yasmin dan Raffa.

“wa’alaikumsalam.” Jawab semua kompak.

“hallo sayang.” Kata Febby

“ciieee yang baru pulang.” Kata Ogel.

“hai Raffa.” Sapa Monik.

“waduh, nih, kayaknya serius nih. Permisi semua.” Kata Rado

“Mas Rado, sekarang cafe ini resmi milik mas Rado.” Kata Renata

“bismillah. Aamiin. Semoga Kali inii gue yakin Ren, cafe ini bakal lebih sukses karna yang managernya adalah sodara loe sendiri.” Kata Rado

“jadi, kalau ada apa-apa lebih gampang marahinnya.” Tambahnya.

“jangan gitu dong.” Kata Febby pada Rado.

“selamat ya mas Rado, Febby.” Kata monik memberi ucapan.

“makasih ya mon.” Jawab Febby.

Saat semuanya merasa senang, Satria juga ingin memberikan kabar bahagia bagi keluarganya untuk diketahui sahabat dan teman-temannya.

“trus tadi, ada yang bunda mau ngomongin juga.” Kata Satria

“sekarang ?” tanya Renata pada sang suami.

“udah kamu omongin aja.” Kata Satria

“kamu aja.” Minta Renata.

“kamu aja, penasaran nggak kakak sama adek?” tanya Satria pada anak-anaknya.

“iya, apa ya ?” kaa Raffa dan Yasmin saling pandang.

“jadi, keluarga kami, akan nambah satu anggota baru.” Jelas Renata dengan senang.

“yeeey, punya adik lagi.” Kata Yasmin.

“hore, akhirnya aku nggak jadi adek lagi.” Kata Raffa yang tak kalah senangnya.

“udah kelamaan yah dek, jadi adeknya.” Ujar Satria pada Raffa serapa berpelukan dengan keluarga kecilnya.

“ada temannya nih.” Sambung monik sambil menunjuk perutnya dan Renata.

Tiba-tiba hana datang pada saat berbahagia ini dan disambut dengan Yasmin dan Raffa.

“beneran, Raffa mau jadi kakak ?” tanya Hana.

“tante hana…” kata Yasmin dan Raffa berbarengan.

“tunggu yah, tante Hana mau ngasih congrast dulu ke bunda kalian.” Jelas Hana pada Yasmin dan Raffa.

“re, selamat ya. Semoga bayi dan bundanya sehat-sehat terus.” Kata Hana pada Renata.

“makasih ya mbak.” Jawab Renata.

“tante hana kok sendirian, om wiliam mana.?” Tanya Raffa.

“om wiliamnya ada di appartemennya, soalnya lembur semalam.” Jelas Hana.

“yaah, padahal mau ngajakin nonton.” Kata Raffa.

“emangnya kakak dan adek nggak capek, an baru pulang ya bun?” tanya Satria pada Renata.

“he’em.” Jawab Renata yang berada tepat disamping suaminya.

“nanti ketiduran di bioskop malahan nyusahin tante hana.” Tambah Satria.

Semua masih dalam keadaan bahagia. Dan pada momen yang berbahagia itu, Yasmin mengajak semua untuk berselfi.

“ayoo, kita selfi.” Ajak Yasmin

“ayo, ayo.. merapat.” Kata Renata.

Saat semua menikmati kebahagian ini, Hana tak kalah juga memberikan kabar bahagianya untuk semua.

“oya, aku datang kesini karna ada yang mau aku kasih ke kalian.” Kata Hana.

“ada apa mbak ?” tanya Monik padaHana dengan penasaran.

“ini..” kata Hana sambil mengulurkan undangan pertunangannya dengan wiliam.

“mbak Hana beneran dengan mas Wiliam ?”tanya Renata.

“iya Ren, setelah dipikir. Kami berteman sudah cukup lama dan william juga selalu ada untuk aku dan juga mama. Lama-lama kami persahabatan kami berubah menjadi cinta.” Jelas Hana dengan malu-lamu.

“alhamdulillah.” Kata Satria.

“selamat ya mbak Hana.” Kata Monik yang diikuti semua.

“terima kasih ya, aku harap kalian semua bisa datang.” Minta Hana.

Lengkap. Semua dalam keadaan bahagia dengan kabar bahagia masing-masing yang mereka bagi untuk semua. Benar, tak ada hal yang lebih baik selain berbagi kebahagian kepada orang lain, karena senyum seseorang bisa menjadi warna dan juga alasana untuk seseorang dapat bertahan hidup.

Bersambung…

 

Terima kasih banyak untuk semua pembaca, maaf sudah buat kalian menunggu cukup lama. Ada yang udh nggak sabar nunggu next cerita samapi DM, suport dan dukungan kalian sangat berarti.

yang mau next cerita bisa tinggalkan komentarnya, dan boleh juga ngasih pendapat kalian kok tentang cerita yang sudah-sudah terpost. yang udah pengen cepet ending juga boleh tinggalkan pesannya di kolom komentar yah…

sampai sekarang, aku masih dengan senang hati nerima kritik dan saran yang membangun dari kalian, yaaaa ngomong-ngomong buat revisi next cerita..

sekali lagi terimakasih banyak untuk kalian. Semoga ini bisa menghibur kalian, dan menjadi ladang pahala untuk saya.. happy Reading ya guys..

 

Hamilnya Renata

x720-DR8 Hamilnya Renata

“kakak, adek, ayoo kita pulang” ajak Renata pada anak-anaknya.

“iya bunda.” Jawab Yasmin dan Raffa.

Setelah mendengar pengakuan dari Hana, Renata berinisiatif untuk memasak makanan kesukaan Satria sebagai permohonan maafnya telah bersikap yang tak seharusnya ia lakukan.

“Feb, mbak pulang yah.” Pamit Renata pada Febby.

“Iya mbak. Mbak Ren hati-hati ya.” Lepas Febby.

“da kak Febby.” Kata Raffa dan Yasmin seraya melambaikan tangan.

Hari semakin sore. Renata dibantu dengan bik Isti dan kedua anaknya sedang menyiapkan menu makan malam mereka.

“bunda, Raffa izin main ke rumah kakek ya.” Izin Raffa.

“ih adek, tapi kan kita lagi bantuin bunda masak.” Kata Yasmin

“enggak ah kak, Raffa bosen. Kan masak itu tugasnya perempuan.” Ujar Raffa dengan polosnya.

“raffa….” sahut Yasmin.

“sudah kak, nggak papa. Adek jangan nangkal ya di rumah kakek.” Kata Renata penuh sayang.

“iya bunda. Da kak Yasmin.” Kata Raffa seraya berlalu pergi.

“bunda kok izinin Raffa sih.” Kata Yasmin agak kesal.

“nggak papa kok kak, atau kakak juga mau main ke rumah kakek dan nenek?” tanya Renata pada Yasmin.

“bunda kok tau.” Jawab Yasmin dengan senyumnya.

“ya sudah, tapi inget. Kakak dan adek harus makan malam dirumah ya?” minta Renata.

“siap bunda.” Kata Yasmin.

Renata hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku Yasmin yang tak pernah ingin kalah dari adiknya.

Dirumah kakek Jodi dan nenek Ratna yasmin dan Rafa sangat gembira senyum dan tawa mereka tergambar jelas diwajah mereka.. Raffa yang belajar bermain catur dengan kakek, berulang kali salah dan tak mengerti-mengerti hadirkan kebahagiaan tersendiri dihati orang tua Renata.

Tepat pukul 5 sore, Renata telah menyelesaikan pekerjaan rumahnya dibantu dengan bik isti. Setelah itu bik isti pamit untuk pulang dan Renata menjemput anak-anaknya dirumah orang tuanya.

“bu, kalau begitu saya pamit pulang dulu.” Pamit bik Isti pada Renata.

“bik Isti, sudah berapa kali saya bilang panggil Renata aja.” Kata Renata pada asiseten rumah tangganya.

“tapi bu, saya nggak enak sama pak Satria. Sekarangkan ibu istrinya bapak.” Jelas bik Isti.

“ya sudah, terserah bik Isti saja. Oya bik, ini untuk anak-anak ya.” Kata Renata sambil menyerahkan bingkisan untuk anak-anak bik Isti.

“makasih banyak bu.” Kata bik Isti bersyukur.

Saat Renata datang ke rumah orang tuanya terdengar tawa bahagia dari mereka semua.

“assalamu’alaikum.” Kata Renata memasuki rumah.

“wa’alaikumsalam,” jawab kakek Jodi setengah berteriak.

“wa’alaikumsalam bunda.” Jawab kak Yasmin dan Raffa hampir bersamaan.

“wa’alaikumsalam, Ren…” jawab nenek Ratna.

“lagi ngapain ini, sampai Renata di depan dengar ketawanya?” tanya Renata penasaran.

“ini Ren, Raffa dan bapak main catur. Raffanya kalah dari tadi jadi gemes sendiri.” Jelas nenek Ratna pada anaknya.

“iya bunda, adek Raffa jadi lucu. Lihat deh ini bun aku rekam videonya.” Kata Yasmin masih dengan tawa di wajahnya.

“ih, kakak… susah tau.” Kata Raffa dengan polosnya.

“kalau Raffa sering latihan dan belajar, pasti bisa kalahin kakek.” Nasehat nenek Ratna pada cucunya.

“bener itu dek, kata nenek.” Sambung Yasmin.

“ya udah deh, kalau gitu Raffa sering-sering main kesini latihan sama kakek biar Raffa bisa jadi pemain catur hebat.” Kata Raffa membuat yang lain tertawa.

“ooh, tentu. Dengan senang hati kakek mau.” Kata kakek Jodi tak kalah dengan Raffa membuat yang lain juga tertawa mendengar ucapannya.

“ya sudah, sebentar lagi ayah pulang kantor, ayoo kita juga pulang.” Ajak Renata pada anak-anaknya.

“ayoo dek.” Ajak Yasmin pada Raffa juga yang bergegas berdiri dari tempat duduknya.

“besok datang lagi ya Raffa.” Kata nenek Ratna.

“bu, pak.. Ren dan anak-anak pulang dulu ya.” Pamit Renata sambil mencium tangan kedua orang tuanya.

“Ren..” panggil nenek Ratna.

“iya bu,” jawab Renata.

“kamu sakit? Kamu kelihatan agak pucat.” Tanya nenek Ratna pada Renata yang langsung dipehatikan kakek Jodi dan anak-anaknya.

“iya Ren.” Sambung kakek Jodi.

Raffa dan Yasmin juga saling pandang setelah melihat wajah Renata yang memang terlihat agak pucat dari sebelumnya.

“enggak kok pak, bu. Ren Cuma agak sedikit pusing. Nanti istirahat bentar juga udah mendingan.” Jelas Renata pada kedua orang tuanya agar tak khawatir.

“Raffa, Yasmin. Jagain bundaa kalian ya.” Pesan kakek Jodi.

“siap kek.” Jawab Raffa, sedangkan Yasmin menjawabnya dengan anggukan kepala.

“ya udah Ren, kamu istirahat ya dirumah.” Pesan nenek Ratna pada Renata.

“iya bu, assalamu’alaikum.” Kata Renata hendak berlalu.

“assalamu’alaikum kakek, nenek.” Kata Yasmin dan Raffa bergantian.

“wa’alaikumsalam.” Jawab kakek Jodi dan nenek Ratna bersamaan.

*****

Malampun tiba, kini Renata dan anak-anaknya menunggui Satria pulang di ruang tamu mereka seraya menonton tv. Renata masih saja terus berfikir dari mana memulai perkataan maafnya pada Satria perihal sikapnya.

Selang beberapa menit, terdengar klakson mobil Satria. Renata semakin grogi namun ia berusaha menyembunyikan perasaan itu.

“ayah…”sambut Raffa dan Yasmin di depan pintu disusul Renata dengan senyuman diwajahnya.

“assalamu’alaikum kakak, adek, bunda. Tumben ayahnya datang disambut gini.” Kata Satria sambil merangkul kedua anaknya.

“wa’alaikumsalam mas.” Jawab renata sambil menyalami tangan suaminya yang kemudian Satria mencium keningnya dengan setengah merangkul.

“bunda.” Kata Satria seakan senang melihat senyuman tulus istrinya.

“ayah, hari ini bunda masakin spesial buat ayah.” Kata Raffa memecah suasana.

“oh ya. Kakak dan adek bantuan bunda nggak?” tanya Satria yang merangkul kedua anaknya sambil berjalan kedalam rumah.

“bantuin dong yah.” Kata Raffa.

“Raffa bohong yah, tadi kita Cuma bantuin bunda bentar aja, setelah itu kita main ke rumah kakek dan nenek.” Jelas Yasmin.

Sebelum percakapan mereka semakin menjadi, Renata menyarankan pada suaminya untuk membersihkan diri dan segera bergabung e meja makan untuk makan malam bersama keluarga kecil mereka.

“ayah..” sela Renata di tengah obrolan anak dan ayah itu.

“iya bun.” Jawab Satria mantap.

“ayah mandi dulu ya, biar bunda siapin makanannya.” Suruh Renata dengan senyumnya.

“iya bunda.” Jawab Satria yang tak kalah dengan senyumannya pada Renata.

Selang beberapa waktu berlalu, sebelum Satria bergabung untuk makan malam bersama dengan anak-anaknya. Renata sang istri menghampirinya di kamar.

“mas…” sapa Renata pada Satria yang masih menggosok rambutnya dengan handuk.

“iya Ren, ada apa?” tanya Satria curiga.

“ada yang mau aku omongin mas.” Kata Renata dengan jujur.

“soal apa Ren?” tanya satria seraya menghampiri Renata yang duduk disamping ranjang.

“aku mau minta maaf mas sama kamu soal sikapku akhir-akhir ini. Entah kenapa aku jadi lebih sensitif jika mengenai kamu.” Kata Renata pada suaminya.

“sebenarnya ada apa Ren?” tanya Satria penasaran.

“jujur, tadi pagi aku bingung banget sama skap kamu yang tiba-tiba nggak seperti biasanya. Aku juga minta maaf ya sama kamu kalau aku ada salah. Tapi sebenarnya kamu kenapa ?” tanya Satria pada Istrinya Seraya mengelus kepala Renata.

“maaf mas, aku sudah salah paham dengan mas Satria dan mbak Hana.” Kata Renata yang menundukkan kepala setengah malu.

“ya Allah Ren, aku sama Hana nggak ada apa-apa kok.” Jelas Satria

“iya mas, aku tau kok. Mbak Hana sudah cerita semuanya.” Balas Renata.

“heuuuh” Satria hanya bisa menhembuskan nafas panjang perihal sikap Renata.

“ya udah, maafin aku ya udah buat kamu cemburu gitu.” Kata Satria dengan senyumnya menggoda sang istri.

“renata tersenyum manis sebelum menjawab “ iya mas, aku juga minta maaf ya.” Katanya.

Suasana menjadi begitu intim. Renata dan Satria saling memandang cukup lama dengan berikan senyuman manis mereka satu sama lain. Saat Satria ingin memeluk dan mencium sang istri, tiba-tiba saja Renata merasa mual mencium aroma parfum yang digunakan Satria.

“ueh..” lirih Renata sambil menutup hidung dang mulutnya dengan tangannya.

“kenapa Ren? Tanya Satria khawatir.

“mas Satria pakai parfum baru ya?” tanya Renata masih dengan menutup mulut dan hidungnya dengan tangan.

“enggak kok Ren.” Jawab Satria masih dengan kekhawatirannya.

“kok wanginya beda ya mas.” Kata Renata dengan jujur.

Pada saat itu juga, terdengan ketukan pada pintu kamar mereka. Dan tak lain yang mengetuk adalah kedua anak mereka, Yasmin dan Raffa.

“ayah, bunda.. ayoo kita makan.” Ujar Raffa mengajak orang tuanya makan bersama.

“bunda tadi bilang mau manggil ayah, kok bunda lama.” Goda Yasmin pada bundanya.

Renata hanya bisa tersenyum menerima candaan dari Yasmin.

“kakak dan adek udah laper ya. Ayoo kita makan sekarang kalau gitu.” Ajak Satria pada anaknya namun pandangannya tetap tertuju pada Renata.

Dimeja makan mual Renata semakin menjadi. Namun tidak ada satupun yang menyadari akan tanda-tanda sickness kehamilan pertama Renata.

“bunda nggak papa ?” tanya Satria yang sedari tadi memperhatikan Renata.

“tadi sore bunda juga kelihatan kurang sehat, bunda nggak enak badan lagi ya bun?” tanya Yasmin yang juga ikut khawatir.

“enggak kok kak. Bunda nggak papa.” Jawab Renata dengan memberikan senyuman manisnya pada keluarganya tersebut untuk tidak khawatir.

Saat Renata ingin mulai memakan makanannya, tiba-tiba saja ia semakin tak kuasa menahan rasa mualnya.

“huehk.. huehk… “ Renata berlari menuju wasstofel dengan segera.

Melihat Renata mual, Satria, Yasmin dan Raffa semakin khawatir.

“bunda nggak papa?” tanya Satria semakin khawatir yang melihat Renata masih mual.

“kita ke dokter ya bun.” Ajak Satria pada istrinya. Namun Renata melambaikan tangan tanda tak setuju.

“nggak usah yah, bunda Cuma masuk angin sepertinya. Istirahat bentaran juga sembuh kok.”  Jelas Renata.

“bunda beneran nggak papa ?” tanya Yasmin yang tak kalah khawatir.

“Raffa nggak mau kehilangan bunda seperti bunda Rahma” kata Rafa sambil memeluk erat Renata.

Benar. Ini pertama kalinya bagi Satria dan anak-anaknya perihal kehamilan Renata. Maklum jika Yasmin dan Raffa tak paham akan sickness tanda-tanda kehamilan bundanya sebab mereka masih anak-anak. Dan Satria, pada saat pernikahannya dengan Rahma, Rahma tidak mengalami sickness awal kehamilan seperti Renata sekarang. Jadi wajarlah jika mereka terlihat sangat khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan pada orang yang mereka cintai.

“Raffa dan kak Yasmin nggak akan kehilangan bunda sayang. Sudah ya, ayoo kita makan lagi.” Ajak Renata menenangkan.

Seperti sebelumnya Satria masih memperhatikan Renata hinnga menjelanh tidur.

“mas, aku nggak papa. Aku Cuma butuh istirahat kok, besok pasti sudah hilang rasa mualnya.” Kata Renata menenangkan suami yang berbaring disampingnya.

“Ya sudah bun, kamu istirahat ya.” Ujar Satria sambil menggeser tubuhnya kedekat Renata.

“mas juga istirahat ya.” Minta Renata.

Malam semakin larut. Lampu-lampu telah dimatikan kecuali lampu tidur yang menyinari kamar mereka dengan remang-remang. Tepat tengah malam, tiba-tiba Renata kembali merasa mual dan bergegas menuju kamar mandi.

“huehk.. huehk.. huehk…” suara Renata dari dalam kamar mandi.

Satria setengah terjaga, saat melihat tak ada sosok sang istri disampingnya ia segera membuka mata dan mendengar suara dari balik pintu kamar mandi.

Tok.. tok.. tok..

“bun, kamu nggak papa sayang?” tanya Satria kembali khawatir.

“aku nggak papa mas.” Jawab Renata dari dalam.

Satria semakin cemas. Terlihat dari raut wajahnya dan juga sikapnya yang mondar-mandir di depan pintu kamar mandi menunggui Renata keluar.

Tak berapa lama, Renata keluar dari dalam kamar mandi. Seketika itu juga Satria langsung memeluk sang istri sebab terbelenggu dengan rasa khawatirnya.

“mas Satria. Aku nggak papa kok mas. Beneran.” Kata Renata dalam pelukan Satria.

“tapi Ren, barusan kamu mual-mual lagi kan.” Kata Satria seraya melepas pelukannya.

“iya, tapi sudah. Kita tidur lagi aja ya, besok mas juga mesti ke kantor kan. Jangan sampai kita bangun kesiangan dan mas jadi terlambat ke kantornya.” Ujar Renata dengan lembutnya.

Renata dan Satria kembali beristirahat malam itu.

Keesokan paginya. Kondisi Renata tak kunjung membaik. Sebagai seorang suami yang bertanggung jawab satria ingin menemani Renata yang kurang sehat untuk menjaga dan membantunya beristirahat. Namun lagi-lagi dengan sikap tak ingin merepotka orang lain termasuk suami sendiri Renata menolak niat baik suaminya.

“sudah mas, mas ke kantor aja ya.” Minta Renata sebelum melepas Satria berangkat ke kantor.

“tapi Ren…” kata Satria membujuk.

“aku nggak papa mas, lagian dirumah juga ada bik isti kan hari ini. Jadi mas Satria nggak usah khawatir ya.” Kata Renata tak ingin merepotkan suaminya.

“ya sudah. Tapi kalau ada apa-apa jangan lupa kabari aku ya.” Minta Satria sambil mengelus kepala istrinya.

Renata menjawab dengan senyuman dan anggukan kepalanya, tanda setuju.

“assalamu’alaikum.” Pamit Satria setelah mencium kening istrinya seperti biasa.

“wa’alaikumsalam.” Jawab Renata seraya memegangi tanngannya.

“hati-hati mas.”  Lepas Renata dengan melambaikan tangan.

******

“kamu kenapa sat?” tanya Hana pada Satria yang sedari pagi kedatangannya hingga siang ini terlihat tak tenang

“kamu han.” Kata Satria yang terkejut. “han, saya bisa pulang cepet nggak ?” tanga Satria penuh harap.

“ada masalah Sat.?” Tanya Hana kembali dengan penasaran.

“enggak, Cuma Renata kurang sehat dirumah. Dan anak-anak juga pulangnya sore karna ada pelajaran tambahan. Takut Renata kenapa-kenapa dirumah kalau bik isti pulang awal seperti biasanya” jelas Satria.

“hmm, boleh kok Sat.” Ujar Hana mengizinkan.

Saat bersamaan, setelah Hana mengizinkan Satria untuk pulang cepat. Tiba-tiba terdengar bunyi telfon Satria yang mendapat panggilan dari nomor telfon rumahnya.

“assalamu’alaikum pak Satria.” Kata bik isti dari seberang telfon yang terdengar panik.

“wa’alaikumsalam. Ada apa bik isti.?” Tanya Satria lembut.

“ibu pak, ibu.. “ kata bik isti semakin panik.

“iya bik, ibu kenapa ?” tanya Satria yang tak kalah paniknya dengan bik isti.

“ibu pak. Ibu, ibu pingsan.” Jelas bik Isti terbata-bata.

“apa bik?.” tanya Satria semakin panik. “ya bik, saya pulang sekarang. Bik isti tolong jaga ibu dulu ya sampai saya datang.” Minta Satria sangat khawatir.

Mendengar suara dan melihat ekspresi Satria yang penuh kekhawatiran, Rado, Monik dan Ogel segera mengahmpirinya.

“ada apa sat?” tanya Rado yang mewakili pertanyaan Hana,Monik, Ogel dan yang lain.

“Han, Do, gue pulang sekarang ya.” Pamit Satria sambil mengemasi barang-barangnya.

“kenapa Sat? Apa yang terjadi?” tanya Rado ulang.

“Renata pingsan Do.” Jawab Satria siap untuk pergi.

“ya sudah Sat kalau gitu, kamu boleh pulang sekarang biar kerjaan kamu di handle Emil sementara waktu.” Kata Hana

“thanks yah Han, mil.” Kata Satria.

“Hati-hati sat. Kabari kita kalau ada apa-apa dengan Renata.” Minta Rado pada Satria.

Dengan segera Satria berlalu pergi menuju mobilnya dan bergegas untuk pulang menemui Renata. Dalam benaknya kembali teringat akan kepergian Rahma dari hidupnya yang dimulai dengan pingsannya Rahma.

“semoga mbak Ren nggak kenapa-kenapa ya ay” kata monik pada ogel turut prihatin.

“aamiin ay.” Jawab Ogel.

“sekarang kita do’ain semoga Renata baik-baik saja.” Kata Rado pada yang lain.

Bersambung….

Pengakuan Hana

pengakuan hana

Fajar menyingsing. Pancaran sinar sang surya menyusuri penjuru bumi. Basahnya dedaunan bermandikan embun, mekarnya kelopak ditaman bunga dan tarian kumbang-kumbang  bagai pujangga, berusaha miliki sang kasih. Panorama alam yang indah bukan?

Pagi itu Renata masih dengan kecemburuannya. Meski tetap melaksanakan tugasnya sebagai istri, sikapnya tak pernah sedingin ini pada sang suami.

“kakak, adek. Weekend ini mau nggak kalau kita camping?” tanya Satria pada anak-anaknya di meja makan.

“camping yah ?” tanya Yasmin untuk memastikan.

“iya sayang. Dulu kan kita hanya camping di halaman rumah bareng tante Hana, sekarang rencananya ayah mau ajak kakak, adek dan juga bunda camping di puncak, Gimana? Kakak dan adek mau nggak ?”” ujar Satria.

Mendengar suaminya menyebut nama Hana, Renata tak bersuara dan hanya menatap Satria.

“Rafa sih mau banget yah.” Jawab Raffa dengan antusias.

“kakak juga.” Sambung Yasmin.

“kalau bunda gimana ?” Tanya Satria pada sang istri yang dari tadi berdiam diri.

Masih dengan kecemburuannya, Renata hanya menjawab dengan senyuman.

“Bunda dan ayah lagi marahan yah ?” Tanya Yasmin tiba-tiba.

“enggak kok kak. Ayah dan bunda baik-baik saja, iya kan bun?” Satria kembali bertanya dan menatap Renata.

“Bunda ambilkan air dulu ya, bunda lupa tadi untuk siapkan dimeja makan.” Kata Renata.

Saat Renata mengambil air dan menyiapkannya, Satria tak henti-hentinya menatap sang istri dan bertanya dalam hati tentang apa yang terjadi dengan sikap Renata akhir-akhir ini.

“Bun, aku berangkat ke kantor ya sekalian anterin anak-anak.” Pamit Satria pada Renata.

“iya…” Jawab Renata dengan senyum paksa.

“ayo kakak, adek, pamit dulu dong sama bunda..” ajak Satria pada anak-anaknya di depan pintu rumah.

“Da.. bunda.” Kata Yasmin dan Raffa berbarengan dan masuk kedalam mobil Satria.

“Ren, kamu kenapa ?” tanya Satria akhirnya.

“nggak papa kok mas.” Jawab Renata datar dengan menggelengkan kepala.

“bener nggak papa?” tanya Satria ulang yang tak percaya akan jawaban Renata.

“iya nggak papa” jawab Renata dengan menatap wajah suaminya.

“ayah, ayoo nanti kita telat.” Teriak Yasmin dari kaca mobil.

“iya kak.” Jawab Satria. “ya sudah, aku pergi dulu ya” pamitnya seraya mencium kening sang istri.

“iya mas, hati-hati” jawab Renata melepas Satria pergi.

Setelah melepas Satria dan anak-anaknya pergi, Renata menuju kamar untuk merapikannya. Dan berfikir mengenai perubahan sikap dan perasaannya yang sensitif pada Satria. Pada saat merapikan kamar, tak sengaja ia menemukan berkas file Satria yang dikerjakannya semalam untuk meeting dengan client siang ini.

“astagfirullah, ini kan berkas yang mas Satria kerjakan semalam sampai lembur.” Ujar Renata.

Khawatir Satria mencari berkas tersebut, Renata mencoba menghubungi suaminya untuk memberitahukan berkas yang tertinggal dirumah, namun telfonnya tak medapat jawaban.

*****

Seperti hari-hari biasanya dome design selalu mendapat project kepercayaan dari setiap clientnya.

“Sat, loe ikut gue ke atas ya meeting sama yang lain.” Kata Rado pada Satria.

“Max, loe juga deh.” Tambah Rado yang bersamaan saat itu Maxi datang ke meja kerja Satria.

“sekarang mas?” tanya Maxi pada Rado.

“enggak Max, tahun depan.” Jawab Rado serius. “yaiyalah sekarang.” Tambahnya.

“ya kali aja mas beneran tahun depan.” Bantah Maxi.

“Mau gue kasih SP loe?” tanya Rado dengan garang.

“enggak mas, enggak.” Jawab Maxi dengan takut.

Satria hanya bisa tersenyum melihat ulah Maxi dan sahabatnya itu. Kemudian Rado berlalu untuk pergi disusul Satria dan Maxi menuju ruangan untuk meeting.

“yang bisa ngasih SP kan cuma gue, kenapa gue takut ya tadi.” Gumam Maxi.

Di meja recepsionis dome design Renata bermaksud menanyakan keberadaan Satria dan pada waktu yang bersamaan Monik datang.

“Mak Ren..” tegur Monik.

“mbak Monik.” Jawab Renata dengan senyum manisnya.

“Mbak Ren kok disini ?” tanya Monik pada Renata heran.

“iya mbak, mau ketemu sama mas Satria, mas Satrianya ada?” tanya Renata yang di balas dengan tawa ringan dari monik.

“kok mbak Monik ketawa?” tanya Renata yang bingung.

“Mbak Ren kan sudah jadi istrinya mas Satria dan dirumah juga ketemu kan mbak, apa dikantor perlu ketemu juga ?” canda Monik.

“enggak gitu mbak Monik.” Jawab Renata dengan malu-malu.

“ini mas Satria kelupaan berkasnya dan tertinggal dirumah, sudah coba aku hubungi tapi nggak diangkat jadi ya udah aku anterin aja takut mas Satrianya bingung nyarinya.” Jelas Renata.

“uuhh, mbak Ren so sweet banget sih..” Goda Monik.

“Ren…” tegur Hana yang baru datang ke kantor dari meeting diluar.

“Mbak Hana.” Jawab Renata dengan senyum yang dipaksakan akibat teringat kecemburuannya.

“kamu disini Ren, mau ketemu Satria?” tanya Hana

“iya mbak.” Jawab Renata

“ oya mbak, aku hampir lupa karna gangguin mbak Ren.” Kata Monik.

“kenapa Mon?” tanya Hana.

“Mas Satrianya lagi meeting sama mas Rado, Mas Maxi dan Ogel mbak.” Jelas Monik

 “oh gitu. Ya Udah Ren. Kamu nunggunya di ruangan aku aja. Gimana?” kata Hana menawarkan.

“nggak usah mbak, nanti malah ganggu mbak Hana kerja.” Jawab Renata.

“enggak kok Ren, aku juga lagi nggak sibuk.”

“nggak usah saya juga buru-buru mau ke Ren’s kitchen. Saya nitip ini aja untuk mas Satria, berkasnya tertinggal dirumah tadi takut mas Satria bingung nyari.” Kata Renata sambil menyerahkan berkas ke Hana. “makasih ya mbak.” Tambahnya.

Sebelum Renata pergi, Hana sempat menanyakan paket pemberiannya.

“oya Ren, kamu udah terima paket yang aku titipin ke Satria.?” Tanya Hana yang semakin membuat Renata kembali cemburu.

“sudah mbak” jawabnya singkat.

“kamu suka ?” tanya Hana lagi.

Renata hanya menjawabnya dengan senyuman manis sambil menganggukan kepala tanda suka.

“syukur deh kalau kamu suka.” Kata Hana lega.

“kalau begitu saya permisi sekarang ya mbak Hana, mbak Monik.” Pamit Renata.

“iya Ren.” Jawab Hana dengan senyuman.

“assalamu’alaikum.” Kata Renata

“wa’alaikumsalam.” Jawab Hana dan Monik hampir berbarengan.

Sepeninggalan Renata, Hana ditemani Monik menuju meja kerja masing-masing. Namun sebelum ke meja kerjanya, Monik sempat mengungkapkan fikirannya kepada Hana.

“mbak Hana..” kata monik memulai.

“kenapa Mon?” tanya hana.

“mbak Hana ngerasa beda nggak tadi sama mbak sikap mbak Ren?” tanya Monik.

“beda gimana maksud kamu mon?” tanya hana yang tak mengerti maksud monik.

“ini sih perasaan aku ya mbak, mbak Ren kelihatannya menghindar deh dari mbak Hana.” Jelas Monik.

“masa sih Mon?” tanya Hana penasaran.

“itu sih Cuma perasaan aku mbak. soalnya setelah menikah dengan mas Satria mbak Ren nggak begitu menyibukkan diri di Ren’s kitchen.” Monik menjelaskan.

“tapi kenapa ya Mon?” tanya Hana tak paham.

“apa mungkin karna postingan mbak Hana semalam soal foto mas Satria?” kata Monik. “bisa jadi mbak Ren salah paham dengan caption mbak Hana.” Tutur Monik yang melihat juga postingan Hana perihal foto Satria di akun instagramnya.

Setibanya Hana di meja kerjanya, Hana memikirkan kembali sikap Renata barusan dan juga perkataan Monik.

Tepat pada saat itu Satria menghampiri Hana di meja kerjanya.

“han, ini design yang loe minta kemarin.” Kata Satria mengejutkannya.

“eh Sat.” Kata Hana. “oya ini ada titipan dari Renata tadi kesini anterin berkas kamu yang teringgal dirumah.” Sambung Hana.

“ya Allah” jawab Satria sambil menerima berkasnya.

“oya Sat, Renata sikapnya beda nggak ke kamu?” tanya Hana penasaran.

“nggak sih, Renata seperti biasanya Cuma..” kata Satria yang tidak melanjutkan omongannya.

“Cuma apa sat?” tanya Hana semakin penasaran.

“Cuma entah kenapa sikapnya agak dingin dari semalam.” Jelas Satria. “ada apa Han?” tanya Satria pada Hana.

“nggak papa kok Sat.” Jawab Hana.

“ kalau gitu aku permisi ya.” Pamit Satria kembali ke meja kerjanya.

Jawaban Hana hanya dengan anggukan kepala.

Dimeja kerjanya Satria mencoba menghubungi istrinya.

“assalamu’alaikum Ren.” Kata Satria memulai pembicaraan.

“wa’alaikumsalam mas.” Jawab Renata

“Ren, tadi kata Hana kamu ke kantor ya?” tanya Satria

Lagi-lagi Renata merasa cemburu.

“iyas mas.” Jawab Renata.

“maaf aku tadi rapat, jadi nggak sempat nemuin kamu.” Jelas Satria.

“iya mas nggak papa.” Jawab Renata sekenanya.

“Makasih ya Ren, aku beruntung banget punya kamu yang pengertian sama aku dan anak-anak.” Ujar Satria.

“sama-sama mas.” Jawab Renata masih dengan sikap yang dingin.

“mas, aku lagi di Ren’s kitchen. Udah dulu ya. Assalamu’alaikum.” Kata Renata sebelum menutup telfon.

“wa’alaikumsalam.” Jawab Satria.

Tiba-tiba Rado datang melihat raut wajah satria yang menjadi muram.

“kenapa loe sat ?” tanya Rado sambil memutar kursi menghadap Satria.

“elo Do.” Jawab Satria.

“cerita-cerita. Ada apa?” tanya Rado dengan antusias.

“ini Do, gue ngerasa sikap Renata beda hari ini.” Jelas Satria.

“beda gimana?” tanya Rado penasaran.

“ge takut Renata kenapa-kenapa, hari ini sikapnya dingin banget ke gue.” Jelas Satria.

“ha… hahahaha.” Tawa Rado.

“ah elo Do, loe malah ketawa.” Kata Satria kesal.

“sorry, sorry. Habis loe lucu. Tapi gue suka. Karna baru kali ini gue lihat loe se khawatir ini. Dan itu tandanya loe sayang banget sama Renata.” Kata Rado menggoda Satria.

“ gini ya Sat “ kata Rado Serius. “ gue nggak bisa ngasih solusi apa-apa, kana gue juga nggak bisa baca pikiran renata. Tapi sebagai sahabat elo, gue berdo’a semoga loe dan Renata baik-baik aja.” Tutur Rado.

“thanks yah Do.” Kata Satria dengan tulus.

“udah positif thingking aja, semangat dong.!” Kata Rado menyemangati.

*****

Di Ren’s kitchen Febby memperhatikan sikap Renata yang sepertinya sedang banyak pikiran. Febby mencoba menanyainya tapi Renata tak juga mau cerita.

“Mbak Ren kenapa? Lagi ada masalah ?” tanya Febby pada Renata.

“enggak kok Feb.” Jawab Renata dengan tersenyum.

Pada saat itu, Febby menerima pesan dari mas Rado berupa emoticon love. Dengan senyuman Febby mencoba menelfon mas Rado.

“hallo mas.” Kata Febby.

“iya Feb. Ada apa ?” tanya Rado.

“kok ada apa? Nggak boleh ya aku telfon pacar aku ?” tanya Febby sambil menggoda Rado.

“nggak gitu, ah sudahlah aku selalu kalah kalo ngelak sama kamu.” Kata Rado menyerah.

“oya mas, mas Satria ada cerita nggak ke kamu kalau marahan dengan mbak Ren?” tanya Febby.

“emang mereka marahan?” tanya Rado penasaran.

‘nggak tau juga sih mas, tapi sikap mbak Ren saat terima telfon dari mas Satria tadi agak beda.” Jelas Febby.

“tadi sih, Satria juga ngomong gitu. Sikap Renata jadi dingin hari ini.” Kata Rado menjelaskan cerita Satria.

“mereka kenapa ya mas?” tanya Febby khawatir.

“entahlah Feb, aku juga nggak tau. Kita berdo’a aja semoga mereka baik-baik aja ya.” Minta Rado.

‘iya mas. Oya, mas Rado udah makan?” tanya Febby “mau aku anterin makanan?” tambahnya.

“ah nggak usah, ntar ngerepotin kamu lagi.” Kata Rado.

“masa buat pacar sendiri ngerepotin mas?” tanya Febby dengan senang.

“makasih ya sayang.” Jawab Rado.

Tepat pada saat itu Yasmin dan Raffa pulang sekolah dan langsung menyusul Renata di ren’s kitchen.

“assalamu’alaikum bunda, kak Febby” kata Yasmin yang datang ke Ren’s kitchen.

“wa’alaikumsalam kak Yasmin, adek Raffa.” Jawab Febby.

“kakak dan adek udah pulang?” tanya Renata.

“iya bun, hari ini gurunya ada rapat jadi kita pulang cepet deh.” Jawab Yasmin.

Setelah Yasmin dan Raffa tiba di Ren’s kitchen, tak lama Hanapun juga datang. Hari itu Ren’s kitchen banyak menerima kunjungan.

“tante Hana….” teriak Raffa yang melihat kedatangan Hana dan memeluknya.

“hai Raffa, yasmin.” Kata Hana sambil memeluk mereka secara bergantian.

“tante hana kok sendiri.” Tanya Raffa.

“iya, tante Hana lagi ada perlu dengan bunda Kalian.” Jelas Hana.

“Ren, bisa kita ngomong sebentar.” Tanya Hana pada Renata.

“iya mbak. Tunggu sebentar.” Jawab Renata sambil melepas clemeknya.

“kak Yasmin dan Raffa mau makan apa ?” tanya Febby mengalihkan perhatian Yasmin dan Rffa agar Renata dan Hana dapat berbicara berdua.

“silahkan duduk mbak.” Kata Renata mempersilahkan Hana.

“makasih Ren,” ujar Hana sambil duduk.

“mbak Hana mau minum apa ?” tanya Renata.

“nggak usah Ren aku Cuma bentar kok.” Kata Hana.

“ada apa mbak ?” tanya Renata dengan penasaran.

“aku kesini mau minta maaf Ren sama kamu.” Kata Hana.

“minta maaf soal apa ya mbak.” Tanya Renata.

“jadi gini Ren, soal postingan aku kamarin. Aku nggak ada maksud apa-apa kok. Itu Cuma sebagai ucapan terima kasih aku karna Satria udah mau nemenin aku untuk meeting dengan client. Kalau nggak ada Satria nggak tau deh gimana jadinya, soalnya Ogel salah ngasih rinciin bahan baku dan Satria sebagai yang design ngejelasin ke client.” Jelas Hana.

“ oh gitu, kalau soal paket yang mbak Hana kasih ?” tanya Renata.

“itu juga ucapan terima kasih aku Ren ke kamu karna kamu udah ijinin Satria buat kerja padahal Satria sedang ambil cuti pernikahan kalian.” Jelas Hana.

“maaf ya mbak, aku udah salah paham.” Kata Renata menyesal.

“nggak papa kok Ren, aku ngerti banget. Kalau aku jadi kamu mungkin aku juga ngelakuin hal yang sama.” Kata Hana dengan senyumnya.

“ya udah Ren, aku langsung paamit yah. Soalnya sebentar lagi ada meeting dengan client.” Pamit Hana dengan melihat jam tangannya.

‘iya mbak. Hati-hati” lepas Renata dengan senyum tulus.

Akhirnya kecemburuan Renata tak berarti. Semua hanya kesalah pahamannya pada situasi dan Hana memberikan pengakuan yang merubah keadaan. Kini Renata kembali bersikap seperti biasanya dengan senyum mengembang di wajahnya bersiap menanti kepulangan sang suami dari kantor.

  Bersambung….

Kecemburuan Renata

images renata

Waktu terus berganti. Tak terasa 2 bulan pernikahan ayah Satria dan bunda Renata telah berlalu. Seperti yang sudah-sudah ayah Satria selalu bertanggung jawab antara pekerjaan dan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga.

Hari itu adalah weekend pertama dibulan september. Dan seperti weekend biasanya, keluarga baskara selalu menyempatkan diri untuk berolahraga dipagi hari, namun ada yang berbeda kali ini.

“ayah, jadikan kita lari paginya ?” tanya Raffa pada ayahnya seusai sholat subuh berjama’ah.

“jadi dong dek, iya kan yah ?” tambah Yasmin.

“iya kakak, adek, jadi kok..” jawab ayah Satria.

“bunda nggak ikutan ya, yah, kak, dek.” Ujar Renata.

“yaaah, bunda…” kata Raffa tak bersemangat.

 “bunda nggak papa ?” tanya Satria sambil menyentuh lengan istrinya.

“nggak kok yah, bunda nggak papa, Cuma… bunda ingin istirahat aja.” Jawab Renata.

“bunda kenapa, bunda sakit ya?” tanya Yasmin khawatir.

“nggak sayang, bunda cuma ngerasa kurang enak badan aja” jelas Renata.

Matahari mulai meninggi. Tepat pukul 6 pagi, Ayah satria, adek Raffa dan juga Kak  Yasmin sedang melakukan pemanasan didepan rumah sebelum bersiap untuk lari pagi. Tiba-tiba saja kakek Jodi menghampiri mereka.

“kakek…” teriak Raffa dengan girang saat dihampiri kakeknya.

“hei cucu-cucu kakek, lagi ngapain nih ? mau olah raga ya?” tanya Kakek Jodi.

“iya pak.” Jawab Satria setelah mencium tangan mertuanya setelah ank-anaknya.

“kakek, kakek..” kata Raffa.

“yaa..” jawan kakek Jodi.

“kakek ikutan kita lari pagi yah.” Minta Raffa.

“boleh,” jawab kakek Jodi. “tapi bunda kalian dimana, biasanya ikut olahraga juga.” Tambah kakek Jodi.

“bunda lagi istirahat kek, katanya kurang enak badan.” Jelas Yasmin.

“oh begitu, ya sudah biarkan bunda kalian istirahat ya.” Kata kakek Jodi.

“kakak, ayoo kita balapan dengan kakek.” Ujar Raffa dengan polosnya

“siapa takut.” Jawab Yasmin.

“nggak, Raffa dan kak Yasmin saja yang balapan, kakek jalan saja dengan ayah kalian ya, kakek sudah nggak kuat kalau balapan lari.” Kata kakek Jodi.

“ya sudah deh, ayoo kak kita mulai.” Kata Raffa bersemangat.

“hati-hati ya kak, dek.” Pesan ayah Satria.

“satu, dua, ti..ga. mulai.” Kata Yasmin dan Raffa berbarengan.

Sepanjang perjalanan, pak Jodi dan menantunya berbincang-bincang agar jalan pagi mereka tidak terasa kosong.

“gimana pekerjaan kamu sat?” tanya kakek Jodi pada menantunya.

“alhamdulillah baik pak, sekarang sudah tidak begitu sibuk seperti kemarin-kemarin.” Jelas satria.

“syukur kalau begitu, jadi kamu bisa punya banyak waktu untuk keluarga apalagi Renata sekarang kurang enak badan.”

“iya pak, insya Allah.”

“itu, nak Hana masih disini ?” tanya kakek Jodi lagi.

“iya pak, Hana masih disini dan sepertinya akan tetap tinggal di Jakarta karna ibu Nadya tidak betah tinggal di Jerman.” Jelas Satria.

“ya memang, tidak ada tempat yang lebih baik untuk menghabiskan hari tua selain kampung halaman.” Kata kakek Jodi.

Setibanya ayah Satria dan kakek Jodi di depan rumah, kak Yasmin dan Raffa terlihat  terengah-enggah sambil meluruskan kaki.

“kakak, adek..” kata ayah Satria.

“siapa yang menang ini, kakak Yasmin atau adek Raffa ?” tanya kakek jodi.

“Raffa dong kek.” Kata Raffa dengan bangga.

“ahhh, Raffa curang kek.” Kata Yasmin sedikit kesal.

“Raffa nggak curang kak.” Elak Raffa.

“kalau bukan curang apa namanya dek.? Masa yah, kek, tadi waktu kakak sudah dekat di garis finishnya, Raffa pura-pura jatuh dan kakak balik buat bantuin Raffa berdiri eh tiba-tiba Raffa bangun dan lari ninggalin kakak.” Jelas Yasmin

“adek…” kata ayah Satria.

“maaf deh yah, kak. Habis kakak larinya cepet banget.” Kata Raffa dengan sedikit menyesal.

“hehehe, ya sudah. Kakek pulang dulu, nenek kalian pasti sudah nungguin kakek dirumah.” Pamit pak Jodi.

Waktu beranjak siang dan Renata tak kunjung merasa baikan. Karna khawatir dan pedulinya Satria pada sang istri dengan penuh perhatian Satria menemani Renata yang sedari pagi hanya berbaring ditempat tidur.

“mas..” tegur Renata yang melihat suaminya setengah terjaga disamping ranjang.

“Ren, gimana kamu sudah baikan? Apa perlu kita ke dokter?” Tanya Satria sambil mengelus kepala istrinya.

“nggak perlu mas, udah mendingan kok” jawab Renata.

“alhamdulillah.”

“mas dan anak-anak sudah makan?” tanya Renata penasaran.

“udah, tadi aku masakin anak-anak nasi goreng tapi rasanya berantakan. Akhirnya kita makan mie instan.” Jelas Satria setengah tertawa.

“maafin aku ya mas.” Sesal Renata pada suaminya.

“nggak papa sayang, lagian kan kamu juga kurang enak badan.” Balas Satria.

Melihat pengertian dan kepedulian suaminya itu, Renata hanya bisa tersenyum dan mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan dalam hidupnya.

*****

Setelah perkataan Renata tempo hari, kini Ren’s kitchen dikelola oleh Febby meskipun sepenuhnya berkas-berkasnya belum resmi. Ya, setelah Renata telah sah menjadi nyonya Baskara ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengurus rumah tangga ketimbang cafenya. Seperti hari ini di hari weekend banyak pengunjung yang menhabiskan waktunya di Ren’s kitchen sehingga Febby tak begitu memperhatikan kedatangan Rado.

“halo cempreng.” Tegur Rado lebih dulu.

“mas Rado, kapan datang?” balas Febby dengan tersenyum bahagia melihat didatangi kekasihnya.

“belum lama sih, sekitar 5 menit yang lalu. Rame banget yah hari ini?” kata Rado sambil memperhatikan sekitar.

“iya nih mas, mana aku cuma berdua sama mak.” Kata Febby sedikit manja.

“euhmmm, kasihan pacarku. Aku bantuin yah?” kata Rado menawarkan diri.

“serius mas, nggak papa. Nggak ngerepotin?” kata Febby dengan mata yang berbinar-binar.

“nggak papa, malah aku seneng bisa kamu repotin.” Kata Rado sambil menata rambut Febby.

“makasih ya sayang.” Ujar Febby penuh cinta.

“iya sayang sama-sama.” Balas Rado tak kalah dengan mesra.

Tiba-tiba saja datang seorang kostumer yang ingin membayar bill tagihannya dan mengagetkan mereka.

“permisi mbak, berapa ya semuanya?” tanya kostumer.

“oh, tunggu sebentar ya mbak.” Jawab Febby. “semuanya 350.000 ribu mbak.” Tambahnya.

“ini ya mbak.” Kata kostumer dengan menyerahkan uangnya.

“terimakasih banyak ya mbak. Di tunggu kedatangannya kembali.” Kata Rado.

“iya” jawab kostumer sambil berlalu.

Waktu terus berputar, siang jadi sore, sore jadi malam dan kinipun waktu berubah menjadi pagi berikutnya. Semua kembali kepada rutinitas dan aktivitas masing-masing seperti biasa. Kini karyawan dome design tak begitu sibuk seperti sebelumnya, sebab semua project melelahkan untuk client dari jerman sudah terpenuhi.

“permisi mbak Hana.” Sapa monik.

“iya mon.” Jawab Hana.

“ini mbak, berkas yang mbak Hana minta.”

“makasih ya mon.”

“iya mbak sama-sama.”

“oya mon, aku mau minta tolong dong.” Kata Hana sambil menatap monik.

“mbak Hana mau minta tolong apa?” tanya monik penasaran.

“pesenin aku Hijab dong.” Kata Hana.

“mbak Hana mau berhijab ?” tanya monik

“enggak mon.” Jawab Hana sambil membaca berkas yang diberikan monik.

“terus mbak Hana minta dipesenin hijab untuk siapa mbak? Saya kira untuk mbak Hana.” Tebak monik.

“untuk Renata.” Jawab Hana masih dengan membaca berkas.

“untuk mbak Ren, mbak?” tanya monik tak percaya.

“iya,” jawab Hana sambil menatap kearah monik.

“jadi gini mon, project dan kontrak perusahaan kita di jerman kan semakin berkembang pesat itu juga berkat satria, bahkan waktu cuti menikahnya pun kita minta dia kerja. Jadi sebagai ucapan terima kasih aku, aku mau ngasih ya hadiah kecillah untuk Renata.” Tutur Hana menjelaskan.

 “iya juga sih mbak, tapi…” kata monik tak berani menghentikan omongannya sesaat.

“tapi apa mon?” tanya Hana kembali memperhatikan berkas yang dibacanya tadi.

“mbak Hana masih peduli dengan mas Satria ya?” tanya Monik tiba-tiba.

Seketika mendengar pertanyaan monik tersebut, Hana menghentikan pekerjaannya dan menatap monik dengan seksama.

“maaf mbak Hana, saya nggak bermaksud. Kalau begitu saya permisi mbak.” Pamit monik merasa bersalah.

Hana masih terpaku dan sesaat memandang satria dimeja kerjanya yang bisa terlihat dari ruangan Hana.

Tak sengaja Satria menangkap tatapan Hana dan mengejutkan Hana sehingga kembali pada pekerjaannya.

“Mon, loe lihat ogel nggak?” tanya Rado pada Monik.

“ogel kan lagi cek bahan baku mas, tadi bukannya mas Rado yang suruh.” Jawab Monik.

“dari tadi belum balik-balik juga.” Kesal Rado.

“be..lum mas.” Jawab Monik

“kenapa sih Do?” tanya Satria menghampiri Rado yang berdiri di depan meja kerja monik.

“ini sat, ogel salah kasih masuk rincian bahan baku.” Jawab Rado khawatir.

“coba gue lihat.” Kata Satria sambil meminta berkas di tangan Rado.

“Do, kalau begini kita yang rugi.” Tutur Satria.

“nah itu dia sat masalahnya, tadi nggak gue cek lagi sebelum meeting dengan client dan lebih parahnya lagi client udah setuju dengan buget segitu.” Jelas Rado penuh sesal.

Melihat Rado dan Satria yang berada di depan meja kerja Monik dengan ekpresi tak mengenakan Hana menghampiri mereka karena penasaran.

“ada apa sih sat, Do?” tanya Hana.

“ini Han, ogel salah kasih masuk rincian bahan baku dan client udah terlanjur setuju.” Jelas Satria pada Hana.

“coba gue lihat berkasnya sat.” Minta Hana

Terlihat jelas keterkejutan Hana dari kerutan dikeningnya.

“kita omongin diruangan aku aja ya. Oya Mon, hubungi ogel yah suruh balik kantor sekarang.” Perintah Hana ppada Monik.

“baik mbak.” Jawab Monik.

Tak menunggu waktu lama ogel segera datang ke ruangan Hana. Ogel meminta maaf atas ketledorannya dan Hana yang akan mengatasi permasalahan tersebut pada client.

“oya sat, kalau begitu kamu yang nemenin aku yah ketemu client. Soalnya kan kamu yang ngedesign jadi kamu bisa bantu aku jelasin ke mereka kalau untuk design menggunakan bahan baku tersebut nggak bisa dengan buget sekian.” Kata Hana.

“oke deh kalau begitu.” Jawab Satria mantap.

Hari semakin malam, meeting dengan clientpun molor dari jadwal.

“Han, bentar yah.” Kata Satria dan berdiri dari tempat duduknya.

“Assalamu’alaikum Ren.” kata Satria menerima telfon dari istrinya.

“wa’alaikumsalam mas, mas Satria lembur ya?” tanya Renata diseberang yang sedari tadi menunggui suaminya tak kunjung pulang.

“enggak Ren, aku lagi nemenin Hana” kata Satria terhenti.

Tiba-tiba saja client yang sedari tadi ditunggu oleh Satria dan Hana datang. Satria yang belum selesai melanjutkan omongannya dengan Renata menutup telfonnya.

“Ren, nanti aku kabari lagi yah. Assalamu’alaikum.” Kata Satria memutus telpon.

“nemenin mbak Hana?” lirih Renata pelan dan merasa aneh pada perubahan suasana hatinya.

Seusainya menjelaskan pada client yang sebenarnya dan kontrak tetap disetujui, Satria pamit pada Hana untuk pulang lebih dulu. Dan Hana menitipkan sebuah paket pada Satria untuk diberikan pada Renata lengkap dengan kartu ucapan, “terima kasih ya Ren”.

Dalam perjalanan pulang Satria sekilas melihat paket yang diberikan Hana untuk Renata dengan tatapan penasaran. Dan dalam waktu yang bersamaan Renata melihat post Hana di instigram berupa foto satria yang sedang menjelaskan pada client namun hanya terfokus pada Satria dengan caption “thanks for tonight”.

“thanks for tonight” ujar Renata mengulang caption di postingan Hana.

Renata kembali teringat perkataan Satria di telfonnya yang mengatakan menemani Hana.

Tit.. tit.. tit..

Terdengar suara klakson mobil Satria yang terparkir dihalaman rumah.

“assalamu’alaikum.” Kata Satria yang memasuki rumah.

“wa’alaikumsalam, mas Satria.” Jawab Renata mengahmpiri suaminya.

Renata menatap suaminya dengan seksama dan melihat bingkisan yang dibawa satria.

“itu apa mas?” tanya Renata dengan mata berbinar-binar berfikir bahwa Satria ingin memberikannya hadiah.

“oh ini.” Kata Satria sambil menyerahkan paket pemberian Hana.

Renata membaca kartu ucapan yang tertera diluar paket.

“apa ini mas?” tanya Renata pada suaminya dengan senyum tersungging diwajahnya.

“itu paket dari Hana bun. Katanya buat kamu.” Kata Satria dengan jujur.

“dari mbak Hana?” ulang Renata.

Seketika raut wajah Renata berubah.

“kenapa bun?” tanya Satria yang menyadari perubahan ekspresi Renata.

“nggak papa yah.” Jawab Renata sambil menuju kamar dan memalingkan wajahnya dari Satria.

“Anak-anak sudah tidur ya bun?” tanya Satria berusaha menahan Renata.

“sudah yah sepertinya mereka lelah sehingga tadi tidur lebih awal. bunda ke kamar duluan ya yah.” Jawab Renata tak beralih dan tetap menuju kamarnya.

Satria yang masih belum mengerti akan perubahan ekspresi Renata dan menganggap Renata sudah mengantuk hanya bisa menahan diri dan menyandarkan tubuhnya disofa.

Bersambung…

Kembalinya Hana

14719564_630987923742484_2733910451006996480_nkckckckckckc

Satria merasa bersalah mengetahui istrinya yang tertidur disofa lantaran menungguinya pulang dari kantor. Dengan rasa sayang dan cintanya itu, Satria langsung memeluk erat istrinya. Sontak Renata terkejut.

“mas….” kata Renata.

“makasih banyak ya Ren, aku merasa bersalah sama kamu. Hari ini harusnya kita habiskan waktu bersama tapi aku malah ke kantor urusin kerjaan.” Kata Satria.

“nggak papa mas, aku bisa mengerti. Mas sudah makan ?” tanya Renata pada suaminya.

“alhamdulillah sudah sayang.” Jawab Satria sambil melepas pelukannya.

“ya udah, aku panasin air dulu yah untuk mas mandi biar enakan nanti tidurnya, mas kelihatan capek banget.” Perhatian Renata.

“makasih ya sayang.”

“mas, aku ini kan istrimu. Bukan orang lain kan ?” tanya Renata sambil memegangi kancing kemeja Satria.

“iya, lalu..” Jawab Satria bingung.

“sudah berapa banyak hari ini mas berkata terimakasih, ini kan sudah menjadi kewajiban aku.” Jelas Renata.

Satria tersenyum senang mendengar perkataan istrinya barusan. Berulang kali ia tak henti-hentinya mengucap syukur pada Allah yang telah mempersatukan cintanya dengan Renata.

*****

Mentari kembali bersinar cerah, kini sudah satu minggu usia pernikahan Satria dan Renata. Meski masih terbilang pernikahan yang  seumur jagung, pernikahan mereka berasa sudah sekian tahun. Sebab, pengertiannya dan tanggung jawab Renata sebagai istri dan seorang ibu, ia tak mengeluh meski setelah menikah harus ditinggal sibuk suaminya bekerja di waktu cutinya.

“kakak, adek.. ayo kita sarapan.” Teriak Satria dari meja makan.

“iya yah.” Jawab Raffa dan Yasmin hampir bersamaan.

“bun, hari ini aku usahain pulang cepet. Bunda nggak usah masak ya, kita makan diluar aja. Gimana kakak dan adek, mau nggak ?” kata Satria setelah mengunyah makanannya.

“mau dong yah.” Ujar Raffa

“bener yah, ayah janji ?” kata Yasmin.

“iya ayah janji kakak, adek.” Jawab Satria mantap.

“ya sudah, kalian habisin dulu sarapannya. Keburu siang, telat loeh ke sekolahnya.” Saran Renata.

“iya bunda.” Ujar Raffa dan Yasmin.

Sedangkan Satria hanya menatap istrinya penuh cinta.

“kenapa mas?” tanya Renata heran.

“kamu cantik banget hari ini.” Puji Satria.

“ya ayah, bunda kita kan memang cantik ya dek.” Kata Yasmin.

Mendengar itu Renata hanya tersenyum sebab tersipu malu.

Tit.. tit.. suara klakson mobil jemputan Raffa dan Yasmin. Mendengar klakson tersebut Raffa dan Yasmin bergegas keluar dengan membawa tas mereka.

“bunda, ayah, kita ke sekolah dulu ya.” Pamit Yasmin pada orang tuanya sambil mencium tangan keduanya dan disusul oleh Raffa.

“jangan nakal yah nak disekolah.” Kata Satria.

Kakek Jodi dan nenek Ratna menghampiri mereka di halaman rumah Satria.

“kakek.. “ teriak Raffa.

“mau berangkat sekolah nih?” tanya nenek Ratna.

“iya nek.” Jawab Yasmin sambil mencium tangan kakek dan neneknya begitu juga Raffa.

“ya sudah, hati-hati yah. Yang pinter sekolahnya.” Tambah kakek Jodi.

“da kakek, da nenek.” Lambai Raffa dari dalam mobil yang mulai melaju.

“nak Satria juga mau ke kantor?” tanya ibu Ratna mertuanya.

“iya bu, ini sekalian mau pamit.” Kata Satria.

“bukannya kamu masih cuti sat?” tanya bapak.

“nggak jadi pak,

“loeh, kenapa ? berarti Ren sendirian dong dirumah ?” tanya mertuanya lagi.

“enggak kok bapak, ada bik Isti hari ini.” Jawab Renata.

“tapi kan, harusnya ini nak Satria dirumah saja. Masa iya habis nikahan nggak jadi cuti. Kan kasihan kamu Ren.” Jelas pak Jodi tak mau kalah.

“Ren nggak papa kok bapak, mas Satria kan juga punya tanggung jawab dikantor karna memang banyak kerjaan yang mesti mas Satria handle.” Bela Renata pada suaminya.

“ya tapi kan.” Jawab bapak lagi.

“bapak, sudah. Ini kan juga tugas nak Satria mencari nafkah untuk keluarganya.” Kata Ibu Ratna menengahi.

“oya nak Satria segera berangkat sekarang gih, nanti keburu macet jadi telat ke kantornya.” Perintah ibu Ratna pada menantunya.

“iya bu. Aku pamit yah pak, buk.” Kata Satria dengan bersalah sambil mencium tangan kedua mertuanya itu.

“Bun, aku berangkat sekarang yah.” Pamit Satria sambil mencium kening istrinya.

“iya mas, Hati-hati ya.” Jawa Renata yang masih menggenggam tangan suaminya setelah mencium tangannya.

“assalamu’alaikum.” Pamit satria.

“wa’alaikumsalam.” Jawab semua.

Setelah Satria berlalu dengan mobilnya menuju kantor, bapak dan ibu Jodi pergi kerumahnya ditemani Renata.

“kamu nggak papa Ren ?” tanya bapak.

“Ren nggak papa pak,” jawab Renata.

“Pak, biarkan sajalah anak-anak jalani kehidupannya sendiri. Toh Renata juga bilang nggak apa-apa. Memang sudah menjadi tanggung jawab dan tugas Renata juga untuk slalu ngerti dan dukung suaminya. Nasihat ibu Ratna pada suaminya.

“iya, tapi kan buk.” Bantah pak Jodi.

“bapak, ibu, sudah. Mas Satria meski sibuk tapi juga masih peduli dan mikirin Ren kok, ini hanya masalah keadaan saja. Ren nggak papa, bapak nggak usah khawatir yah.” Pinta Renata.

“ya sudahlah, kalau kamunya nggak apa-apa, bapak nggak bisa bilang apa-apa juga.” Kata pak Jodi menyerah.

“Ren pamit yah pak, bu. Kasihan bik Isti sendirian dirumah.”

“iya Ren.” Jawab ibu Ratna dengan lembut pada anaknya.

Setibanya Satria dikantor, ia menerima pesan dari istrinya yang tertera sebagai bunda dilayar ponsel.

“mas, omongan bapak tadi pagi jangan terlalu dipikirin yah, aku nggak papa. Selamat bekerja suamiku, I love you sayangku.” Pesan Renata manis.

Membaca pesan tersebut Satria tersenyum riang, dan segera membalas.

“I love you too, istriku.”

Seusainya membalas pesan Renata saat yang bersamaan pula Rado dengan membawa berkas-berkas lewat didepan meja kerja Satria dan Satria memanggilnya.

“Do.. “ tegur Satria.

“iya Sat ?” jawab Rado dengan melihatnya sekilas.

“Do, gue ijin yah pulang cepet ntar.” Kata Satria.

“kenapa, ada masalah dirumah ?” tanya Rado khawatir.

“nggak sih Do, semua baik-baik saja. Cuma gue mau makan malam aja sama Renata dan anak-anak. Tau sendiri loe semenjak gue nikahin Renata gue langsung sibuk dikantor.” Jelas Satria pada Rado.

“oh gitu, oke. Tapi design yang untuk client dari bandung udah beres kan ?” jawab Rado.

“udah kok, tinggal gue email aja ke loe.”

“oke kalau gitu.” Jawab Rado singkat.

Waktu terus berjalan, tepat pukul 4 sore Satria bersiap untuk pulang. Namun tiba-tiba Hana datang dan mengejutkan semua karyawan dome design.

“hay semua.” Kata Hana.

“mbak Hana.” Jawab Monik girang.

“hay Mon, gimana calon baby dan mamanya.” Sapa Hana pada Monik.

“alhamdullillah semua sehat kok mbak.” Jawab Monik.

“Han.. kapan kamu datang?” tanya Satria.

“tadi siang sat.” Jawab Hana seperlunya.

“kok nggak ngabarin sih Han kalau mau datang ke Jakarta, tau begitu kita jemput kan dibandara.” Kata Rado.

“iya nih mbak Hana, sukanya bikin kita kaget aja. Saat balik ke Jerman juga gitu, nggak ada info sama sekali.” Terang Monik.

“I’m sorry. Soalnya ini juga mendadak karna client terbesar kita di Jerman suka banget sama design Satria dan pengen ketemu malam ini. Kamu bisa kan Sat ?” kata Hana.

Rado yang mengerti rencana Satria hanya bisa memandang Satria dan menunggu jawabannya.

“gimana ya Han, harus malam ini ya?” tanya Satria balik.

“kenapa Sat ?” tanya Hana.

“gue udah terlanjur janji sama Renata dan anak-anak mau pulang cepet.” Kata Satria jujur.

“yaaah sayang banget, nggak bisa loe usahain Sat. Soalnya besok pagi beliau udah mesti balik lagi ke Jerman.” Terang Hana.

“gimana ya ?” Kata Satria bingung.

“loe kabarin Renata aja dulu Sat, mungkin dia bisa ngerti dan kasih penjelaan ke anak-anak loe.” Usul Rado.

“gue telfon Renata dulu deh ya.” Kata Satria.

Tak menunggu waktu lama, telfon Satria pun langsung diangkat oleh Renata di seberang sana.

“assalamu’alaikum mas,” kata Renata

“wa’alaikumsalam Ren. Ren maaf, bisa nggak makan malam kita dibatalin dulu.” Kata Satria diseberang.

“kenapa mas?” tanya Renata dengan lembutnya yang sedang bersiap.

“ini Ren, Hana barusan datang dengan client dari Jerman dan clientnya suka sama design aku, jadi minta ketemu.”

“oh gitu, alhamdulillah. Iya mas nggak papa.” Kata Renata.

“bilangin anak-anak yah Ren, assalamu’alaikum.” Kata Satria sambil menutup telfon.

“Wa’alaikumsalam.” Jawab Renata.

“kita nggak jadi makan malam diluar yah bun.?” Tanya Yasmin kecewa.

“iya kak, barusan tante Hana datang ke kantor dengan client dari Jerman dan minta untuk meeting bareng ayah.” Jelas Renata pada Yasmin.

“ayah jahat.!” Kecewa Yasmin pada ayahnya dan berlari menuju kamar dan menguncinya.

Raffa yang juga kecewa sebenarnya hanya bisa diam dan  membalas pelukan Renata yang menghampirinya.

“kakak kecewa yah bun ? Raffa juga.” Ujar Raffa jujur dengan mata berkaca-kaca.

“eh, kapten bunda nggak boleh cengeng.” Kata Renata menghibur Raffa. “ayah masih ada urusan penting dikantor sayang, kita harus ngerti ya.” Kata Renata dengan lembut.

“iya bunda.” Jawab Raffa.

Hari mulai gelap, yasmin tak juga kunjung keluar kamar. Renata dan Raffa sedari tadi sudah mencoba membujuknya namun tidak berhasil juga.

“kakak, ayo kita makan. Bunda sudah masakin spageti tuna kesukaan kakak dan adek loeh.” Bujuk Renata didepan pintu kamar Yasmin.

“ayoo kak, Raffa udah laper.” Tambah Raffa.

Tok.. tok.. tok.. ketuk Renata di pintu Yasmin yang tak kunjung memberikan jawaban.

“kak, ayoo keluar sayang. Dari tadi kakak belum makan. Nanti kakak bisa sakit sayang.” Kata Renata masih berusaha membujuk Yasmin.

“kakak , ayoo kak kita makan.” Bujuk Raffa.

“enggak dek, adek dan bunda saja yang makan. Kakak nggak laper.” Balas Yasmin dari dalam kamar.

Tiba-tiba Rado dan Febby datang ke rumah Satria untuk membantu membujuk Yasmin.

“Feb, mas Rado.” Kata Renata di depan pintu kamar Yasmin yang tiba-tiba didatangi Rado dan Febby.

“Yasmin belum mau keluar juga mbak. ?” tanya Febby.

“iya Feb.” Jawan Renata mulai putus asa.

“kak Yasmin. Ayo kita makan sama-sama. Ada om Rado dan Kak Febby loeh.” Kata Rado ikut membujuk.

“enggak.” Teriak Yasmin dari dalam kamar.

Saat itu tepat pukul jam 9 malam, dan terdengar suara mobil Satria parkir dihalaman.

“assalamu’alaikum.” Kata Satria sambil membuka pintu.

“ayah.. “teriak Raffa seraya menghampiri Satria didepan.

“wa’alaikumsalam.” Jawan Renata, Febby dan Rado yang hampir berbarengan.

“loeh, kok ada kamu disini Feb, Do.” Kata Satria sambil menerima salam dan ciuman tangan dari Renata.

“iya yah, kak Yasmin dari tadi siang belum makan apa-apa dan ngak mau keluar kamar.” Jelas Raffa.

“bener bun?” tanya Satria pada Renata.

Dengan sesal Renata menjawab.

“iya mas,”

“karna itu sat. Gue dan Febby datang kesini buat ngebujuk Yasmin juga. Tadi pas Febby telfon Renata, dengar Raffa ngebujuk Yasmin keluar kamar, jadi kita langsung datang kesini.” Penjelasan Rado.

“kenapa bisa bun?” tanya Satria pada Renata yang belum tau akar pemasalahan yasmin kecewa.

“kakak, kecewa yah karna ayah nggak jadi ajakin kita makan malam diluar, adek juga kecewa tapi bunda sudah kasih penjelasan ke adek, jadi Raffa bisa ngerti.” Kata Raffa dengan polosnya.

“ya Allah, maafin ayah ya dek. Ayah terlalu sibuk dengan urusan kantor dan karir ayah.” Sesal Satria.

“iya yah, nggak papa.” Jawab Raffa.

“kakak.. buka pintunya sayang, ayah mau bicara.” Kata Satria membujuk Yasmin.

“enggak, ayah jahat. Ayah kan sudah janji. Ayah egois.” Kata Yasmin.

“maafin ayah kak, ayah menyesal.” Kata Satria sedikit serak.

Mendengar suara ayahnya yang seakan menahan tangis, Yasmin tak tega dan membuka pintu kamarnya.

“ayah janji nggak akan ngebatalin janji lagi?” minta yasmin.

“iya kak, ayah janji. Maafin ayah ya sayang.” Kata Satria sambil memeluk anak-anaknya.

“bunda..” ujar Satria seraya merangkul istrinya itu yang berlinang air mata.

Seusainya makan, Rado dan Febby pamit undur diri dari rumah Satria.

“mas Rado kenapa dari tadi kok murung gitu ?” tanya Febby penasaran.

“aku jadi nggak enak sama Satria dan ngerasa bersalah sama Yasmin Feb.” Kata Rado.

“kenapa bisa mas?” tanya Febby kembali.

“tadi kenapa nggak aku coba bantu Satria ngeyakinin Hana buat pending jadwal meetingnya dengan client dari Jerman hari lain aja.” Cerita Rado.

“iya sih mas, mbak Hana juga kenapa nggak bisa ngerti. Jangan-jangan mbak Hana sengaja lagi.” Pikir Febby.

“hust, nggak boleh ngomong gitu.” Tegur Rado.

“iya mas, maaf.” Jawab Febby.

“tapi dari kejadian tadi, aku jadi belajar Feb.”

“apa mas?” tanya Febby yang tak paham.

“bahwa menjadi seorang ayah itu  nggak gampang, nggak cuma hanya mencari uang tapi juga tetap harus pedulikan keluarga yang utama.”

“iya mas. Dan mas Satria juga beruntung banget berjodoh dengan mbak Ren yang sabar dan pengertian.” Tambah Febby.

“aku juga beruntung jadi pacar kamu cempreng.” Gombal Rado. “makasih ya sayang” tambahnya.

“aku juga beruntung banget mas punya kamu.” Kata Febby.

dibawah sinar rembulan, Febby dan Rado saling mengungkapkan keberuntungannya saling memiliki. Berbeda dengan Renata dan Satria yang saling mengajukan maaf sebelum tidur.

“bun, maafin ayah ya seminggu ini jarang ada waktu untuk keluarga.” Sesal Satria yang bersandar di tepian ranjang.

“bunda juga minta maaf yah, bunda nggak berhasil ngebujuk kak Yasmin tadi.” Kata Renata sambil menyandarkan kepalanya di bahu Satria.

Tiba-tiba Raffa dan Yasmin mengetuk pintu kamar orang tuanya.

“ayah, bunda..” kata Raffa dan Yasmin hampir bersamaan sambil membuka pintu kamar orang tuanya.

“iya sayang.” Jawab Renata menegakkan duduknya.

“ayah..” kata Yasmin.

“iya kak,” jawab ayah Satria.

“maafin kakak ya ayah, bunda.” Sesal Yasmin.

“maafin ayah juga ya kak, ayah lebih mentingin karir ayah dan ngorbanin kalian.” Ujar ayah Satria.

“iya sayang nggak papa, tapi inget kak Yasmin nggak boleh ngambek sampe nggak makan kayak tadi. Bunda khawatir kak.” Ujar Renata menasehati anaknya.

“iya bunda. Yasmin sayang sekali sama bunda.” Kata Yasmin sambil memeluk Renata.

“adek juga.” Tambah Raffa yang ikutan memeluk juga.

“dan ayah juga sayang kalian.” Ujar Satria seraya memeluk anak dan istrinya.

“ayah, bunda. Boleh ya Raffa tidur disini bareng ayah dan bunda.” Kata Raffa setelah melepas pelukannya.

“boleh dong, iya kan Yah.?” Kata Renata dan bertanya pada suaminya.

Sontak, Satria langsung memandangi istrinya dengan tatapan tak setuju.

“kakak juga, mau tidur disini dengan bunda.” Tambah Yasmin.

“Kalau adek dan kakak tidur disini, ayah tidur dimana dong?” tanya Satria pada anak-anaknya.

“tidur diluar.” Kata Raffa dengan tawa.

“adek tega suruh ayah tidur diluar?” tanya Satria.

Melihat kebahagiaan tersebut Renata tak kuasa menahan harunya. Ia slalu berdo’a semoga keluarga kecilnya selalu diberi kebahagiaan dan dilindungi oleh Allah.

Bersambung…

Bersatunya Cinta

ini bukan novel, cerpen, cerbung atau apalah-apalah. Ini cuma coretan dari sebagian besar imajinasi yang coba gw kembangin dan salurin lewat hobbi gw yaitu nulis. selain belum bisa move on dari Teleseri inspiratif yang menguras air mata dan emosi, gw coba berbagi ke kalian terkhusus @teamrenata dan @teamradofebby, and..  sorry banget bagi yang nggak suka, bagi yang suka dan mau kelanjutannya, please suport dan silahkan kasih tanggapan, kritik ataupun saran yang membangun buat gw perbaikan. gw ucapin selamat membaca.. 🙂

mqdefault

Mentari bersinar cerah, awan-awan menggumpal laksana sayap putih bertebaran dilangit biru. Kicauan burung-burung bak nyanyian merdu seirama goyangan ilalang di halaman rumah.  Pagi itu cuaca sangat bersahabat, tak heran senyum merekah tersungging dimana-dimana. Dekorasi bunga dan pernak-pernik bernuansa putih tertata rapi didepan rumah, sederhana namun tetap terlihat waah. Sangat memukau.

Hari itu adalah hari yang membahagiakan bagi tante Ren dan ayah Satria, setelah sekian lama bersabar dan pasrah karna keadaan, akhirnya Allah mempesatukan cinta mereka dengan cara terbaikNya.

Seperti sebelumnya Yasmine sedang asik dengan kameranya untuk mengabadikan setiap moment yang menggembirakan itu.

“iya, sabar dong ay. Ini juga udah siap, sebentar lagi jalan.” Suara Ogel menjawab telepon Monik dari seberang.

“kak Monik, panik banget yah om Ogel ?” tanya Yamine pada Ogel.

“tau tuh, yang mau nikah siapa yang sibuk siapa?” jawab Ogel seenaknya dengan lebih menekankan suaranya ke layar ponsel miliknya yang masih terhubung dengan Monik.

“Kak, ayah kok lama banget yah ?” ujar Rado yang tak sabar menunggu mempelai pria bersiap dari tadi.

“iya nih, ayah kok lama banget yah ?” Yasmine sependapat dengan om Rado.

“panggil dong kak, dek, jangan main terus.” Minta Rado.

“ayoo dek kita panggil ayah.” Ajak Yasmine

Sedari tadi Raffa yang sibuk dengan mainan mobil-mobilannya ikut sang kakak, Yasmine untuk memanggil ayah keluar kamar.

Tok.. tok.. tok…

“ayah sudah belum?” tanya Raffa dan Yasmin hampir berbarengan.

“sabar dong, ini juga sudah siap.” Jawab Satria sambil merapikan jasnya didepan pintu kamarnya.

Akhirnya semua berkumpul di ruang tamu rumah satria, Yasmine yang sudah siap dengan boquet bunga untuk bunda barunya dan sang adik yang berdiri disamping ayahnya.

“akhirnya Sat,” ujar Rado menjabat tangan sahabatnya dengan turut bahagia.

“iya Do, Alhamdulillah.” Jawab Satria dengan senyuman.

Tak beda dengan kediaman mempelai wanita, tante Ren juga sudah bersiap dengan polesan make up yang melengkapi kebaya putih yang dikenakannya. Cantik.

“Ren, kamu cantik banget. Akhirnya datang juga hari bahagia kamu Ren.” Kata ibu Ratna turut berbahagia.

Seketika air mata  tante Ren tumpah, sangking tak kuasanya menahan haru dan juga bahagia yang memenuhi relung hatinya.

“Alhamdulillah ya mbak.” Tambah Febby.

“Alhamdulillah” jawab renata masih dengan air matanya.

“sudah dong mbak jangan nangis terus, nanti make up nya luntur loeh.” Canda Febby yang dibalas dengan senyuman Renata.

Suasanapun berubah menjadi khidmat, saat pak Jodi, bapak kandung Renata menikahkan anaknya dengan Satria Baskara.

“saya terima nikahnya Renata Puteri Artadi binti Jodi Artadi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Suara Satria dengan lantang dan jelas.

Serentak semua tamu undangan termasuk Hana berkata sah untuk pernikahan Satria dan juga Renata.

(diatas, moment bahagia dan terbaper dari kc season 1 sampai 3 jadi sayang kalau nggak ditulis ulang. J)

Hari kian larut. Setelah menjamu tamu undangan dan  berfoto bersama keluarga dan sahabat, kini tiba saatnya bagi mereka berkumpul dengan keluarga besar dimeja makan kediaman kakek Jodi untuk makan malam bersama.

“Alhamdulillah, hari ini berjalan dengan lancar ya Sat.” Kata ibu Marini mertua Renata.

“iya bu, Alhamdulillah.” Jawab satria dengan senyum bahagia.

“Kakak Yasmine dan Adek Raffa. Tidur sama eyang yah dirumah ?” minta eyang Marini pada anak-anak.

“enggak ah eyang, Raffa mau tidur dengan tante Ren, eh bunda Renata maksudnya.” Ujar Raffa dengan polosnya.

“kalau Raffa tidur sama bunda Ren, terus ayah tidur sama siapa?” timpal kakek Jodi.

Sontak mendengar perkataan mertuanya itu Satria tersedak makanan. Alih-alih Renata menunjukkan kepedulian dan sayangnya pada Satria yang menjadi suaminya sekarang.

“pelan-pelan mas makannya, ini minum dulu” ujar Renata dengan lembut sambil memegangi gelas Satria untuk minum.

“ayah nggak papa?” tanya Yasmine khawatir.

“ayah nggak papa sayang.” Jawab Satria setengah malu.

“begini saja, Raffa dan kak Yasmine temani eyang Marini dulu tidur dirumah malam ini, kan kasian eyang kalian kalau tidur sendiri. Besok baru kalian tidur dengan bunda Ren. Gimana ?” kata nenek Ratna menengahi.

“iya begitu saja.” Tambah pak Jodi meyakinkan.

“iya nek.” Jawab Yasmin yang mengerti.

Sedangkan Febby hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan kelurga ini dan berharap nanti dia dan mas Rado dapat merasakan hal yang sama dengan segera.

Seusainya makan dan merapikan meja, anak-anak dan ibu Marini pamit untuk pulang dan beristirahat dirumah Satria, sedangkan Satria dan Renata bermalam dirumah kakek Jodi guna mengemasi barang-barang Renata yang akan dibawa pindahan kerumah suaminya.

Malam kian larut, lampu temaram menghiasi sudut kamar Renata. Selesainya mengemasi barang-barang dan berbincang ringan dengan romantisan, bersatulah mereka atas nama cinta dengan labuhan bahtera rumah tangga dan harapan didalamnya sakinah, mawadah wa rahmah yang ingin mereka bina hingga ke surgaNya.

*****KC*****

Pagi ini Renata pindahan kerumah Satria. Dibantu dengan suaminya, Renata membawa barang-barang seperlunya.

“pak, buk. Ren pamit tinggal dirumah mas Satria yah?” kata Renata pada orang tuanya.

“iya Ren, kalau ada apa-apa datang kerumah ya?” jawab pak Jodi dengan sedih.

“bapak ini, kayak Ren pindahan kemana saja, kan cuma ke rumah depan pak. Ren juga setiap hari bisa kesini” Ganggu nenek Ratna pada suaminya.

“kan masih ada Febby om.” Ujar Febby menghibur yang sedari tadi hanya diam saja.

“iya bapak. kita juga bakal sering-sering kesini kok, iya kan bun?” tanya Satria pada Renata.

“iya pak. Renata dan anak-anak pasti akan sering-sering main kerumah kok nemenin bapak sama ibu.” Ujar Renata meyakinkan.

“ya.. ya.. ya..” jawab kakek Jodi seraya mengantar anak dan menantunya kemuka pintu.

“mbak Ren dan mas Satria mau aku bantuin ?” tanya Febby.

“nggak usah Feb, nanti kamu telat ke Ren’s kitchennya.” Jawab Renata.

“ya sudah, kalau begitu sekalian aku pamit yah om, tante ke cafe kasian mak Saripah pasti udah nungguin.” Pamit Febby.

“hati-hati yah Feb. Nanti mbak menyusul.” Pesan Renata.

“mbak Ren dirumah aja, nikmati aja dulu waktu liburnya dengan mas Satria dan keluarga.” Goda Febby yang membuat Satria dan Renata salah tingkah.

Dirumah Satria, mereka disambut gembira oleh anak-anak dan ibu Marini.

“Assalamu’alaikum. Kakak, adek?” suara Satria dari depan pintu.

“wa’alaikumsalam.” Jawab ibu Marini dari dalam.

“bunda. Raffa seneng banget deh sekarang, akhirnya Raffa punya bunda lagi.” Kali ini suara Raffa dengan polosnya.

“iya bun, aku juga. Masih ngerasa seperti mimpi.” Terang Yasmin.

Dengan naluri keibuannya, Renata langsung memeluk anak-anak tirinya itu dengan penuh kasih sayang bak anak kandungnya sendiri.

“alhamdulillah ya Sat.” Suara eyang Marini yang bahagia melihat menantu dan cucu-cucunya, seraya dirangkul Satria disampingnya.

“iya bu, akhirnya anak-anak punya bunda dan itu Renata.” Jawab Satria penuh cinta.

****

Setelah Hana kembali ke Jerman untuk mengurus cabang dome design sekaligus pengobatan ibu Nadya, karyawan di Jakartapun sedang sibuk, suasananya menjadi tak karuan ditambah dengan cutinya Satria.

“permisi mas Rado, ini berkas yang harus mas Rado tanda tangani.” Terang Monik.

Tanpa basa-basi Rado langsung menandatangani berkas tersebut. Namun tiba-tiba Ogel masuk tanpa permisi keruangan Rado dengan panik.

“mas, mas… gawat mas.” Terang Ogel dengan ngos-ngossan.

“kenapa sih ay, kayak habis kejar maling gitu.” Canda Monik.

“yaelah ay, mending kejar maling. Ini gue udah kayak malingnya yang dikejar-kejar.” Jawab Ogel sekenanya.

“kamu nyuri ay,? Ya ampun ay.” Respon Monik sambil memegangi perut buncitnya karna hamil.

“enak aja. Ya nggaklah ay.” Balas Ogel.

“kenapa sih Gel ?” potong Rado menanyakan perihal Ogel yang panikan.

“ini mas tadi mbak Hana telfon. Katanya banyak client di Jerman yang minta dibuatkan design proyeknya hari ini sedangkan karyawan disana juga banyak deadline.” Terang Ogel.

“kok Hana nggak hubungi gue langsung ya?” tanya Rado heran.

“tadi saya juga udah nanya gitu mas, tapi kata mbak Hana katanya udah hubungi loe mas, tapi loe nggak angkat-angkat telfonnya.” Jelas Ogel pada Rado.

Seketika Rado melihat ponselnya.

“ya Allah.” Ekspresi Rado prustasi. “gue lupa dari semalam gue kasih nada silent.” Tambah Rado.

“jadi gimana mas ?” tanya Monik.

“ya udah, sekarang loe bilang si Emil deh Mon dan loe minta untuk dia ngedesign sekarang juga ya.” Perintah Rado.

“nah itu masalahnya mas, Emil kan lagi handle pameran di workshop karna mas Satria masih libur.” Kata Ogel.

“kalau nggak, kita minta mas Satria aja mas untuk ngedesign. Gimana ?” usul Monik.

“kita coba dulu kali yah, nanya Satria bisa nggak.” Jelas Rado.

Dikediaman Satria, Renata dan sang suami coba membujuk ibu Marini yang sedang berkemas karna ingin kembali ke Jogja hari ini. Sementara Yasmin dan Raffa sudah berada disekolah.

“ibu bener mau pulang ke jogja hari ini ?” tanya Satria pada ibunya.

“ iya bu, nggak nanti-nanti saja. Mumpung mas Satria juga masih libur jadi bisa banyak waktu untuk keluarga.” Bujuk Renata sambil membantu mertuanya berkemas.

“enggak Ren, ibu masih ada urusan di jogja. Itu loeh tanah yang ibu beli untuk kalian sertifikatnya bermasalah. Jadi ibu harus segera balik Jogja” Terang ibu Marini khas dengan logat Jogjanya.

Saat bersamaan ponsel Satria berdering dan itu panggilan dari Rado.

“aku terima telfon dulu ya bu.” Izin Satria.

“halo Sat, sorry nih ganggu.” Suara Rado dari sebrang.

“iya Do, ada apa?” jawab Satria.

“jadi gini Sat, barusan Hana ngabarin banyak client di Jerman minta dibuatkan designnya hari ini. Sedangkan karyawan disana juga udh pada deadline semua. Loe bisa nggak Sat, ke kantor hari ini ?” Tanya Rado.

“gimana ya Do, gue nggak enak sama Renata.” Kata Satria.

Mendengar namanya dan melihat ekspresi Satria yang bingung Renata penasaran namun masih tetap membantu mertuanya berkemas yang hampir selesai.

“duuuh, sorry banget nih Sat. Soalnya si Emil juga lagi nggak dikantor masih ngehandle pameran di workshop. Loe usahauin deh ya.” Minta Rado.

“ya udah deh Do, gue usahain yah.” Kata Satria sambil menutup telponnya.

“Ren.. setelah aku antar ibu ke bandara, nggak papa kan kalau aku tinggal ke kantor?” tanya Satria pada sang istri.

“bukannya kamu masih cuti Sat?” tanya ibu Marini.

“iya bu, tapi dikantor lagi banyak project dan nggak ada yang bisa handle.” Jelas Satria.

“nggak papa kok mas, kalau gitu aku minta izin juga yah mau ke Ren’s Kitchen.” Izin Renata.

“iya sayang, maaf ya..” ujar Satria penuh sesal dan cinta pada istrinya.

“nggak papa kok mas, aku bisa ngerti.” Respon Renata dengan senyum manisnya.

“ya sudah, ayuuuk Sat kita berangkat sekarang.” Ajak ibu Marini pada anaknya.

“mas Satria siapkan mobilnya saja dulu, aku ambilkan tasnya dikamar.” Saran Renata.

“makasih ya sayang.” Jawab Satria dengan bahagia karena beruntung memiliki istri seperti Renata.

Setelah mengambil tas suaminya dan mengantar mertua dan sang suami ke muka pintu, Ibu Marini dan Satria pamit pada Renata.

“Ren, ibu pamit ya. Kalau ada apa-apa jangan sungkan telfon dan kabarin ibu.”

“iya bu, ibu hati-hati yah..” Jawab Renata.

“ren, aku pergi dulu ya.” Pamit Satria pada istrinya

“iya mas, hati-hati.”

“iya sayang. kamu juga hati-hati, kabari aku kalau sudah di Ren’s Kitchen.” Minta Satria dan mencium kening istrinya dengan sayang.

*****

            Di Ren’s kitchen, Febby dan mak saripah sedang melayani kostumer dan tiba-tiba Renata datang.

“ loeh, mbak Ren kok kesini sendiri, mas Satria mana ?” Tanya Febby heran.

“mas Satria ke Kantor Feb.” Jelas Renata.

“ciyeee, pengantin barunya datang.” Goda mak Saripah yang membuat Renata dan Febby tertawa.

“ah emak,” jawab Renata dengan malu.

“itukan nak Febby, mak bilang apa, mbak Ren pasti kesini karna nggak bisa ninggalin Ren’s Kitchen sehari saja.” Kata mak Saripah.

“enggak kok mak, justru Ren kesini karna ada yang mau di omongin sama mak dan Febby.” Terang  Renata.

“ada apa mbak ?” tanya Febby penasaran.

“jadi gini Feb, Mak. rencananya aku bakal pasrahin Ren’s kitchen sekarang sama mas Rado.” Jelas Renata.

“mas Rado udah tau soal ini mbak, mas Satria juga ?” tanya Febby.

“belum sih Feb, soal mas Satria ntar pulang dari  kantor baru mbak kasih tau. Dan soal mas Rado, tunggu suasana kantor baik dulu deh ya kayaknya, karna kata mas Satria tadi dikantor lagi banyak project sekarang.” Jelas Renata pada Febby.

“Iya sih mbak, tadi aku coba watshapp mas Rado juga nggak dibales.”

“kalau cafenya jadi milik mas Rado, mak nggak bisa kerja disini lagi dong mbak Ren?” kata mak Saripah putus asa.

“pasti bisa kok mak, ntar aku yang ngomong sama mas Rado, iya kan mbak Ren?” hibur Febby.

“iya mak, mak tenang saja ya.” Tambah Renata.

Setibanya Satria di dome design, ia disambut oleh Rado di meja kerja Satria.

“hay Sat, sorry banget nih harusnya loe masih libur tapi gue minta loe kerja.” Ujar Rado menyesal.

“nggak papa Do, lagian gue juga paham situasinya kayak gimana, oya loe kirim deh ya draftnya sekarang biar bisa langsung gue kerjain.” Kata Satria.

“oke, thanks ya Sat.”

“udah, loe kayak sama siapa aja.” Timpal Satria.

Waktu berlalu begitu cepat. Detik berganti menit, menit berganti jam dan kini tepat pukul jam 8 malam Satria dan karyawan Lainnya belum juga pulang. Karna sibuknya bekerja, Satria lupa mengabari Renata yang kini menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya. Karna khawatir, Renata sebagai istripun mencoba menghubungi suaminya lebih dulu.

“assalamu’alaikum mas, mas masih dikantor ?” ujar Renata dari sebrang telfon.

“Wa’alaikumsalam Ren. Ren maaf, dari tadi aku sibuk banget sampe lupa kabarin kamu. Iya aku masih dikantor?” jawab Satria.

“iya mas nggak papa, mas sudah makan ?” tanya Renata peduli.

“belum Ren, tapi barusan Rado pesan makanan buat anak-anak kantor kok. Kamu dan anak-anak sudah makan?”

“ayah, kapan pulang ? kita sudah lapar.” Celetuk Raffa dari loespeaker ponsel Renata.

“iya yah, ayah lembur ya ?” tambah Yasmin.

“kakak, adek. Sebentar lagi ayah pulang kok.” Ujar Satria dengan buru-buru merapikan kerjaannya hingga jatuh berantakan.

“astagfirullahal‘adzim.” Kata Satria

Mendengar suara suaminya yang menjadi panik, Renata mengerti dengan situasinya dan memberi solusi.

“mas, nggak papa kalau nggak bisa makan malam bersama, nanti aku yang kasih penjelasan ke anak-anak. Mas Satria jangan lupa makan yah !”

“nggak kok Ren, aku pulang sekarang.” Kata Satria kekeh.

“mas, jangan dipaksa dari pada buru-buru nanti kerjaannya nggak maksimal.”

Mendengar nasihat istrinya yang lembut dan pengertian itu, Satriapun luluh.

“Ren, makasih banyak yah. Aku dan anak-anak beruntung punya kamu sekarang.” Gombal Satria dengan tulus.

“iya mas. Sama-sama, assalamu’alaikum.” Kata Renata sambil menutup telponnya.

“wa’alaikumsalam.” Jawab Satria sambil melanjutkan pekerjaannya.

Sebagai seorang istri yang sholeha dan juga bunda yang baik bagi anak-anaknya, Renata memberikan perhatian dan kasih sayangnya untuk keluarga kecilnya itu, Baskara family.

“kakak, adek. Kita makan duluan ya. Ayah masih ada kerjaan dikantor, nggak papa kan kalau kita cuma makan bertiga.” Ujar Renata pada anak-anaknya.

“iya bun, nggak papa. Ayo kita makan sekarang bun, Raffa udah laper.” Kata Raffa.

“bunda masak apa hari ini?” tanya Yasmin.

“masak makanan yang buat kak Yasmin jadi juara.” Jelas Renata.

“apa ya dek?” tanya Yasmin pada Raffa dengan penasaran.

“nggak tau kak, kita lihat saja ayo kak.” Ajak Raffa pada Yasmin sambil menuju meja makan yang disusul Renata dibelakang.

“sup ayam..” kata Raffa dan Yasmin berbarengan.

“iya, jadi tadi pulang dari Ren’s kitchen bunda nggak sengaja lihat piala lomba masak kak Yasmin, bunda jadi kepikiran deh buat masakin sup ayam untuk menu makan malam kita.” Jelas Renata dengan semangat.

“bunda masih ingat ?” tanya Raffa.

“ingat dong, masa bunda lupa sama kepintaran princes dan kapten ayah.” Ujar Renata sambil mencubit lembut hidung Raffa dan Yasmin seperti yang dilakukan almarhummah bunda Rahma.

“makasih ya bunda, itu juga berkat bunda.” Kata Yasmin sambil memeluk Renata.

“kalau kakak dan bunda pelukan terus, kapan kita makannya? Raffa udah laper kak.” Kata Raffa dengan polosnya.

“ih, Raffa dari tadi mengeluh laper terus.” Kata Yasmin sedikit sebel.

“hehehe.” Tawa ringan Renata melihat tingkah laku anak-anaknya. “kasian kak, adek sudah bener-bener laper kayaknya. Ayoo kita mulai makan dan  jangan lupa baca do’a.” Ujar Renata setelah menyiapkan hindangan dipiring masing-masing.

Seusai makan malam, seperti biasa Yasmin dan Raffa mengerjakan tugas sekolahnya masing-masing. Yasmin mengerjakan dikamarnya, begitu juga Raffa mengerjakan tugasnya dikamarnya sendiri. Ya, setelah Satria dan Renata menikah Raffa tidak lagi tidur dengan Satria melainkan tidur sendiri dikamarnya. Dan Renata masih menunggu suaminya pulang dari kantor sambil menonton tv diruang tengah.

Waktu terus berlalu, hingga tanpa sadar Renata tertidur diatas sofa. Tepat pukul jam 11 malam, terdengar suara mobil Satria parkir dihalaman rumah.

“assalamu’alaikum.” Ujar Satria sambil membuka pintu.

Mendengar suara yang tak asing, Renata terbangun.

“wa’alaikumsalam mas.” Jawab Renata seraya bangun dari sofa.

“Ren, kamu tidur disini sayang ?” tanya Satria tak tega.

“iya mas, tadi lagi nonton tv sekalian nunggu mas Satria pulang, eh malah ketiduran.” Jelas Renata.

Merasa bersalah, Satria memeluk istri yang dicintainya itu. Sontak Renata terkejut.

Dan ………….

Bersambung…

Bismillah and Hamdallah

Firts, said Bismillah untuk memulai segala sesuatu dan memfokuskan niat semata-mata hanya karna Allah. Second, said Alhamdulillah untuk nikmat yang Allah kasih dalam hidup ini. Tanpa Dia kita tiada artinya. Sholawat dan salam semoga slalu tercurah untuk nabi tercinta, Muhammad SAW.

Dengan slogan “Menulislah untuk berbagi agar ceritamu abadi”, dengan alasan karena menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, dan suatu cara untuk menyentuh seseorang yang entah dimana, untuk itu saya ucapkan selamat datang pada blog ini. 🙂

salam penulis amatiran
nana.nfw09